Hari Sumpah Pemuda di Museum Sumpah Pemuda

Selain Bakti, satpam yang bertugas juga mengaku kewalahan saat hari sumpah pemuda menjelang.

WARTA KOTA, JAKARTA - Sumpah pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928 silam ini diperingati oleh Museum Sumpah Pemuda yang berlokasi di Jl. Kramat Raya no. 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Peringatan ini dinyatakan oleh salah satu pengelola, sebagai salah satu bentuk penghormatan pada perjuangan pemuda/i yang menjadi tonggak berdirinya Indonesia.

Dalam peringatan hari sumpah pemuda ini, pengelola memiliki program tahunan yang selalu menjadi daya tarik terbesar bagi pengunjung. Adalah pameran tokoh-tokoh pemuda yang berhasil merumuskan kongres pemuda II, di tahun ke-88 ini Dr. Moewardi menjadi tokoh utama yang diperkenalkan kepada pengunjung sebagai tokoh inspiratif.

Menurut Dan Bakti (35), pria yang juga menjabat sebagai pengelola sekaligus guide, program tahunan ini selalu berhasil menarik minat pengunjung khususnya pada hari peringatan sumpah pemuda, dan akan bertahan sepanjang bulan September s/d Desember. Hal ini dibuktikan dari ramainya museum dilihat dari bagian depan sampai ke bagian dalam.

"biasanya kalau hari biasa, pengunjung tidak sebanyak ini. Tapi kalau sudah menjelang sumpah pemuda, pengunjung akan meningkat pesat, terlebih lagi karena program tahunan tokoh-tokoh sumpah pemuda itu, puncaknya sih ya di bulan Oktobernya," tutur Pria yang akrab disapa Bakti tersebut.

Selain Bakti, satpam yang bertugas juga mengaku kewalahan saat hari sumpah pemuda menjelang. Pasalnya, lahan museum yang hanya 1000 meter ini terbilang kecil, dengan luas museum sekitar 800 meter dan sisa untuk lahan parkir hanya sekitar 200 meter kurang. "rame sekali memang kalau sudah hari sumpah pemuda, undangan dari sekolah-sekolah di Jakarta aja ada 8 sekolah, parkir bus, parkir mobil, motor, kadang ga muat, makanya masuknya suka gantian biar enak juga didalamnya," tutur Agus (44) satpam yang bertugas di Museum sumpah pemuda ini.

Undangan dalam rangka hari peringatan sumpah pemuda ini disebarkan kepada sekolah-sekolah di Jakarta, khususnya Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Menurut pengelola yang sudah bekerja selama 7 tahun ini, pameran tokoh-tokoh sumpah pemuda ditujukan mampu menjadi titik awal pengenalan masyarakat akan proses berdirinya Indonesia, melalui pemuda/i Indonesia yang kala itu turut membantu kemerdekaan, serta mampu menginspirasi masyarakat khususnya pemuda Indonesia saat ini.

"kalau bicara tujuan, tujuan adanya program tahunan ini ya agar masyarakat kenal dengan tokoh-tokoh sumpah pemuda, kenal bagaimana proses dan perjuangan pemuda kala itu, ya agar lebih kenal dengan apa itu hari sumpah pemuda lah," Terang Bakti.

Adalah Nurul (10) salah satu pengunjung museum yang menjadi undangan untuk turut memperingati hari sumpah pemuda, dimana lokasi kongres sumpah pemuda ke-II dilaksanakan, menurut gadis kecil ini tujuan sekolahnya datang ke museum adalah untuk hari peringatan. "datang kesini karena diajak guru, semuanya dari kelas 1-6 juga ikut, kita disuruh mencatat sama mengisi soal-soal, kata ibu guru biar belajar hari sumpah pemuda," tutur Nurul yang berasal dari Sekolah Dasar Negeri Kwitang 01 pagi.

Selain Nurul, ada pengunjung lain dari Sekolah Dasar Taman Sari 03 Jakarta Barat, siswa/i yang masih duduk di kelas 4 dan 6 SD ini tampak sibuk mencatat keterangan yang ada pada replika benda-benda bersejarah dan patung-patung tokoh yang berdiri gagah, menurut Salsabila (12) kunjungan ke museum ini sangat menginspirasinya untuk menjadi pemuda/i yang lebih berguna "iya, senang dan jadi punya cita-cita baru setelah liat isi museumnya, mau jadi tentara nanti, biar bisa lebih bangga jadi orang Indonesia," tutur polos anak yang berkerudung putih ini.

Museum Sumpah pemuda sendiri, sebelum dijadikan museum pada tahun 1974, merupakan sebuah rumah tinggal milik warga keturunan Tionghoa, ialah Khong Liang. Pria keturunan tionghoa ini lalu menjadikan rumah tinggalnya sebagai pondokan atau sekarang lebih dikenal dengan rumah kost. Sejak dijadikan rumah kost di tahun 1925-an, kawasan jalan kramat ini juga menjadi salah satu sentral pergerakan mahasiswa pada saat itu, dengan beberapa penggerak mahasiswa diantaranya jong java, jong ambon, jong celebes dan pemuda betawi.

Sejak saat itu, perumusan kongres pemuda II dilakukan di pondokan itu sampai terjadinya kongres pada tanggal 28 Oktober 1928, dan diperingati sebagai hari sumpah pemuda setelah pada hari ini, tepat 88 tahun silam. (Nurfitri Aprilia)

Editor: Adi Kurniawan
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved