Polisi Kewalahan Mengejar Pelaku yang Mengedarkan Pupuk Tanaman Ilegal

Polres Pelabuhan Tanjung Priok menyita 120 ton pupuk tanaman ilegal, yang rencananya diedarkan ke daerah Pulau Jawa, Sumatera Utara, Riau, Aceh.

Polisi Kewalahan Mengejar Pelaku yang Mengedarkan Pupuk Tanaman Ilegal
Warta Kota/ Panji Baskhara Ramadhan
Ilustrasi pupuk ilegal yang diungkap kepolisian di Jakarta Utara. 

WARTA KOTA, TANJUNG PRIOK -- Polres Pelabuhan Tanjung Priok menyita 120 ton pupuk tanaman ilegal, yang rencananya diedarkan langsung ke daerah Pulau Jawa, Sumatera Utara, Riau, serta Aceh.

Polisi hingga saat ini, masih kewalahan dan kebingungan, untuk menentukan tersangka, yang merupakan produsen pupuk ilegal itu.

"Jadi pupuk-pupuk ini tidak sesuai akan standar pupuk pada umumnya. Sehingga, pupuk-pupuk itu sendiri justru tidak dapat membuat tanaman tumbuh dengan baik. Para petani yang membeli pupuk itu pun mengalami kerugian," kata AKP Dedi selaku Kasat Reskrim Pelabuhan Tanjung Priok, Kamis (27/10/2016).

Ia melanjutkan,"Mengenai produsennya hingga saat ini kami belum bisa menentukannya untuk dijadikan tersangka, karena masih kami dalami dulu. Nanti diinformasikan kembali," kata Dedi di Halaman Polres Metro Pelabuhan Tanjung Priok.

Dijelaskan Dedi, pihaknya yang telah berhasil menyita 120 ton pupuk tanaman ilegal, berawal mendapatkan informasi dari masyarakat, terkait adanya peredaran pupuk ilegal yang tak sesuai dengan standar komposisinya.

"Jadi kami dari Sat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok pada Senin (10/10/2016), sekitar pukul 02.00 WIB, mengamankan dua container meratus ukuran 20 feet. Didalamnya ada 48 ton pupuk yang diduga ilegal. Pupuk yang bermerk NPK Plus Ponskha itu kami sita dan memeriksa dua orang saksi, antara lain M selaku sopir, dan YM selaku seorang karyawan dari perusahaan Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL)," papar Dedi.

Dedi mengatakan, diketahui pupuk seberat 48 ton itu, diakui kedua saksi merupakan milik dari perusahaan yang bersangkutan dan yang masih dalam penyelidikan. Pupuk tersebut, diketahui dari daerah Sukabumi, dan akan diedarkan ke Medan, Sumatera Utara (Sumut), yang dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Priok dengan kapal KM Oriental.

"Lalu, pada Kamis (13/10/2016) sekitar pukul 04.30 WIB, tepatnya di Jalan Raya Pelabuhan Tanjung Priok, kami kembali mengamankan 72 ton pupuk yang dimuat di tiga container ukuran 20 feet. Ada tiga saksi, KSD, RSD, SHD, yang merupakan sopir truk, dan ID yang merupakan karyawan EMKL yang langsung kami periksa di lokasi," ungkap Dedi.

Ia mengakatan, pupuk-pupuk tersebut rencana akan diedarkan ke daerah Bengkulu, melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Ditotal, kata Dedi, ada 120 ton pupuk yang diduga ilegal berhasil disita oleh pihaknya.

"Pupuk-pupuk itu sendiri sudah diperiksa pihak Pusat Laboratorium Forensik. Ternyata hasilnya tidak sesuai dengan standar komposisinya. Lalu sampai saat ini tersangka belum kami tentukan dan masih dalam penyelidikan. Namun, kasus ini pun terbukti pelaku telah memproduksi, dan mengedarkan pupuk tanpa izin yang sah," ujar Dedi kembali.

Barang Bukti yang berhasil diamankan, antara lain

- 1 Unit Truk Trailler bernopol B9564SEH
- 1 Unit Truk Trailler bernopol B9563SEH
- 1 Unit Container Meratus nomor MRTU 2197199/ 20 Feet berisikan 24 ton pupuk NPK Plus Ponska
- 1 Unit Container Meratus nomor MRTU 2126955/ 20 Feet berisikan 24 ton pupuk NPK Plus Ponska.

- 1 Unit Truk Trailler bernopol B9498UEL
- 1 Unit Truk Trailler bernopol B9496UEL
- 1 Unit Truk Trailler bernopol B9584UEJ
- 3 Unit Container ukuran 20 feet berisikan masing-masing 24 ton, sehingga ditotal ada 72 ton.
- dan 3 lembar surat jalan.

Dikatakan Dedi, pelaku usaha tersebut dijerat dengan pasal, Pasal 106 Jo Pasal 24 ayat (1), dan Pasal 113 Jo Pasal 57 ayat (2) UU nomor 7 tentang Undang-undang Perlindungan Konsumen.

Penulis: Panji Baskhara Ramadhan
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved