Meski Harga Kedelai Impor Naik, Harga Tempe dan Tahu Masih Stabil

Meski harga kedelai impor mengalami kenaikan, tapi harga tempe dan tahu masih stabil.

Meski Harga Kedelai Impor Naik, Harga Tempe dan Tahu Masih Stabil
Warta Kota/Dwi Rizki
Ilustrasi harga kebutuhan pokok terpengaruh dengan terjadinya kenaikan impor, meski harga tempe dan tahu masih belum mengalami kenaikan harga. 

WARTA KOTA, PASAR MINGGU -- Naiknya harga kedelai impor asal Amerika Serikat yang naik, imbas dari penguatan dollar terhadap rupiah dalam sepekan terakhir rupanya belum mempengaruhi harga jual tempe di pasaran Ibukota. Terpantau, harga tempe berada dikisaran harga Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per buah, sedangkan tahu dijual dikisaran harga Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kantong.

Harga jual eceran itu seperti yang terpantau pada tiga pasar wilayah Jakarta Selatan, yakni Pasar Darurat Halim, Pasar Minggu dan Pasar Kebayoran Lama pada Selasa (11/10). Pada ketiga pasar tersebut, harga tempe papan berukuran 30 x 10 cm dijual seharga Rp 4.000 per buah, sedangkan tempe mendoan dijual seharga Rp 3.000 per ikat isi enam buah.

Sementara, aneka tahu seperti tahu putih kecil dijual seharga Rp 6.000 per kantong isi enam buah, tahu putih besar seharga Rp 4.000 per buah, tahu kuning dijual seharga Rp 5.000 per kantong isi enam buah dan tahu coklat sumedang dijual seharga Rp 7.000 per buah.

Stabilnya harga tempe dan tahu tersebut seperti yang disampaikan oleh Imam (56) pedagang tempe di Pasar Darurat Halim, Makasar, Jakarta Timur. Warga RT 05/07 Halim itu justru mempertanyakan harga tempe dan tahu yang belakangan ramai diberitakan di sejumlah wilayah Jakarta.

Pasalnya, kenaikan harga kedelai di pasaran saat ini, katanya, belum berdampak banyak pada pengusaha kecil seperti dirinya. Hal tersebut dikarenakan stok kedelai impor yang dimiliki KOMTI masih mencukupi kebutuhan 1500 kelompok usaha tempe dan tahu di Jakarta Selatan hingga sebulan mendatang.

"Jakarta Selatan sendiri ada 1500 kelompok tempe dan tahu, satu kelompoknya minimal ada 30 orang anggota. Koperasi memang sudah sepakat belum naikin harga, karena memang produksi tempe sekarang itu masih pakai stok persediaan koperasi," ungkapnya ditemui di lapak jualannya di Los Dalam Pasar Darurat Halim pada Selasa (11/10).

Lebih Murah

Keterangan Imam rupanya dibenarkan oleh Taryo (54) pedagang tempe di PD Pasar Minggu. Tetap terjaganya harga jual tempe dan tahu eceran itu disampaikan Ketua Kelompok IV wilayah Pasar Minggu Koperasi Tahu Tempe Indonesia (KOMTI) itu karena harga beli kedelai impor dari koperasi jauh lebih murah dibandingkan harga pasaran.

"Karena kita gabung koperasi, semua pasokan kedelai kita ambil dari koperasi juga. Harganya itu sekarang Rp 750.000 se-kwintal atau Rp 7.500 sekilonya. Harga itu jauh kalau dibandingin sama harga pasaran sekarang, sekitar Rp 11.500 sampai Rp 12.000 sekilonya," ungkapnya ditemui di lapak jualannya di Los Blok B PD Pasar Minggu pada Selasa (11/10).

Karena harga beli kedelai impor yang murah, pria yang memiliki istri empat itu menyampaikan anggota kelompoknya masih memproduksi tempe dan tahu seperti biasa. Bahkan, ukuran tempe dan tahu dibuat lebih besar dibandingkan dengan ukuran standar.

"Ukuran sama harganya masih normal, malah saya gedein ukurannya supaya tambah laku. Alhamdulillah, produksi tempe se-kwintal setiap hari habis terus, apalagi waktu lebaran haji (Idul Adha-red), pada bosen makan daging, jadi pada nyari tempe," ungkap warga Jalan Al Fallah, RT 05/02 Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan itu terkekeh.

Walau begitu, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan harga jual tahu tempe akan naik apabila pasokan kedelai impor di lumbung koperasi habis.

Dirinya pun mengajak agar para pengusaha tempe untuk bergabung untuk menguatkan koperasi demi terjaganya harga tahu tempe di pasar lokal.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved