Kopi Beracun

Saksi Ahli: Visum Polisi terhadap Jasad Mirna Sudah Akurat

Penyidik Polda Metro Jaya sudah benar karena telah melakukan pengambilan sampel toksikologi terhadap jasad Wayan Mirna Salihin (27) yang diduga tewas

Saksi Ahli: Visum Polisi terhadap Jasad Mirna Sudah Akurat
Rangga Baskoro
Suasana sidang kasus Jessica yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Rabu (20/7). 

WARTA KOTA, SEMANGGI -- Saksi Ahli Forensik Rumah Sakit Seokanto Kramat Jati, dr. Slamet Poernomo menilai penyidik Polda Metro Jaya sudah benar karena telah melakukan pengambilan sampel toksikologi terhadap jasad Wayan Mirna Salihin (27) yang diduga tewas akibat keracunan usai minum es kopi Vietnam.

Menurut dia, tidak dilakukan otopsi pada korban Mirna karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, antara lain mungkin kondisi sudah 3 hari pasca kematian, kemudian telah dilakukan emblaming (formalin) dan kurang berkenannya keluarga korban untuk diotopsi.

Akan tetapi, Slamet mengatakan penyidik telah melakukan pemeriksaan luar dan pengambilan sampel lambung, hati, urin jasad Mirna bukan otopsi. Sedangkan, darah tidak diambil karena sudah mengental dan sudah diformalin.

"Hal ini sesuai dengan permintaan penyidik pada surat permintaan visum et repertumnya," kata Slamet saat dihubungi di Semanggi, Jakarta Selatan, Kamis (15/9).

Dia mengatakan permintaan tersebut dari Polsek Tanah Abang surat Nomor 04/VER/I/2016/Sektor TNB perihal pemeriksaan mayat dan pengambilan sampel toksikologi, yakni pemeriksaan luar dan pengambilan sampel pada korban WMS berupa lambung, hati, empedu dan urin pada tanggal 9-10 Januari 2016.

Ia menambahkan tampak sekali adanya keterkaitan cicumstantial evidence seperti korban menghirup atau menyedot VIC (kopi Vietnam), gejala dan tanda timbul sangat cepat atau lihat CCTV, temuan sianida pada VIC (kopi Vietnam) dengan kadar tinggi, temuan sianida pada tubuh korban sebagian karena racun.

"Tidak ditemukan adanya sianida dan metabolit pada hati serta urin, tentunya dapat disebabkan emblaming (formalin) yang sudah berjalan tiga hari," ujarnya.

Ia menjelaskan pengaruh emblaming (formalin) kasus keracunan sangat berpengaruh merubah atau mendegradasi bahan beracun pada tubuh secara signifikan, serta dapat merubah hasil pemeriksaan laboratorium.

"Sehingga menurut saksi ahli Prof Gatot Lawrence pemeriksaan darah dan hati menjadi tidak valid lagi," tutur dia.(bin)

Penulis: Bintang Pradewo
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help