Kisah Masa Lalu Eder, yang Pilih Bunuh Diri karena Bapak Membunuh Ibu Angkatnya

Eder mengungkapkan, sebagian rahasia dirinya, yang selama ini tertutup kabut misteri dan belum pernah terungkap.

Kisah Masa Lalu Eder, yang Pilih Bunuh Diri karena Bapak Membunuh Ibu Angkatnya
Getty Images
Eder 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Eder mengungkapkan, sebagian rahasia dirinya, yang selama ini tertutup kabut misteri dan belum pernah terungkap.

Kisahnya mengharu biru dan terungkap bagaimana sebenarnya dia memilih bunuh diri.

Eder adalah pemain yang berhasil membenamkan Prancis di Final Piala Eropa di Paris dengan mengalahkan Prancis melalui gol mematikannya, sehingga dia menjadi bagian dari Portugal, yang menjadi juara Eropa 2016.

Penyerang ini sebenarnya punya kisah kelam, selain dia gagal menyarangkan gol ke gawang lawan dengan 15 penampilannya bersama Swansea.



Eder mengungkapkan, bapaknya, Filomeno Antonio Lopes telah membunuh ibu angkatnya, sehingga dia harus mendekam di penjara di London, sejak tahun 2003.

Dalam keadaan kalut Eder memilih bunuh diri, tapi dia kemudian bertemu dengan psikolog, Susana Torres.

Gol penting yang mengubur harapan tuan rumah Prancis sebagai juara Eropa, sehingga menjadikan Portugal pemenang di Benua Eropa di tahun 2016.

"Aku harus menyaksikan lagi 15 kali, bahkan lebih, kapan saja, aku bisa lihat di YouTube, mengapa tidak?" kata dia.

Eder ditebus dengan harga lima juta poundterling oleh Swansea City, tampil 13 kali di Liga Inggris, musim lalu, tanpa sekali pun mampu menembak bola ke sasaran gawang lawan.

Eder kemudian menerima sebanyak 200 pesan ucapan selamat, setelah aksi gemilangnya.

"Ayahku demikian gembira, dia menangis di telepon. Dia sangat bangga pada aku dan sangat bahagia,' katanya.

Filomeno Antonio Lopes mendekam di bui karena membunuh ibu angkat Eder, Domingas Olivais di tahun 2003.



Eder lahir di Guinea-Bissau, negara koloni Portugal, Desember 1987, sebelum kemudian pindah ke Portugal, saat usia tiga tahun.

Dia kemudian diadopsi di usia delapan tahun.

"Aku tak bisa bohong, kehidupan demikian keras,' katanya.

Dia mengawali bakat main bolanya di lapangan rumput yang dipenuhi dengan pecahan gelas kaca, tanpa alas kaki, apalagi sepatu.

"Ya, sangat sulit, aku anak adopsi, tanpa orangtua sendiri," katanya.

Penulis: Gede Moenanto Soekowati
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved