Pendangkalan Melanda Pelabuhan Pulau Baai Mengakibatkan Distribusi Barang Tersendat

Distribusi semen dan barang lainnya melalui Pelabuhan Pulau Baai mengalami gangguan akibat pendangkalan yang terjadi dan tidak segera diatasi.

Pendangkalan Melanda Pelabuhan Pulau Baai Mengakibatkan Distribusi Barang Tersendat
Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Ilustrasi terjadinya pendangkalan berdampak banyak kapal tidak bisa melaksanakan kegiatan dan distribusi barang menjadi terganggu. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Distribusi semen dan barang lainnya melalui Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, kini, mengalami gangguan akibat pendangkalan yang terjadi dan tidak segera diatasi.

Kapal besar tidak bisa masuk berdampak kerugian baik di pihak pengusaha maupun pemerintah setempat.

Kepala Kantor Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas III Pulau Baai Bengkulu Moh Ali mengeluarkan surat edaran tertanggal 3 Agustus 2016 bahwa saat ini kapal besar tidak bisa masuk karena berdasarkan hasil pengukuran terakhir (Survai Bathimetri) bahwa pada spot 1500 - 1700 meter alur Pelabuhan  Pulau Baai, Bengkulu kedalamannya 5-1 meter.

“Demi terjaminnya Keamanan dan Keselamatan Pelayaran kapal-kapal yang keluar masuk Pelabuhan Pulau Baai maka, dengan ini disampaikan draft kapal yang akan berkunjung ke Pelabuhan Pulau Baai supaya disesuaikan dengan kedalaman alur tersebut,” ungkap Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas III Pulau Baai Bengkulu Mohammad Ali
melalui surat edaran itu.

Kondisi terhambatnya distribusi itu dikeluhkan pengusaha dan distributor barang di Provinsi Bengkulu.

Salah seorang distributor Semen Padang, Jevon Vandinata di Kota Bengkulu, Jumat (25/8) mengatakan, pendangkalan itu sudah terjadi lebih dari satu bulan terakhir mengakibatkan kapal besar kapasitas penuh (full) 10 ribu ton tidak bisa masuk Pelabuhan Pulau Baai.

“Ini (pendangkalan) tidak ada tindaklanjut dari pihak otoritas atau Dinas Perhubungan setempat. Sehingga kapal-kapal yang melayani rute Jakarta Bengkulu dan dari Padang yang membawa Semen Padang ke Bengkulu tidak bisa dengan kapal besar lagi. Akibatnya distribusi tersendat semuanya,” kata Jevon.

Jevon mengatakan, kapal terpaksa bongkar barang di laut berjarak ratusan meter dari pelabuhan.

“Ini merugikan, bongkar barang tidak bisa di pelabuhan terpaksa dibawa dengan kapal kecil ke pelabuhan. Padahal, pelabuhan yang melayani kapal besar ini sangat vital bagi kegiatan perekonomian. Tetapi tidak ada tindakan,” ujarnya.

Dia menambahkan, keadaan tersebut jelas berdampak distribusi semen dari Padang dan barang kebutuhan lainnya tersendat.

Kelangkaan semen dan barang lain melalui pelabuhan Pulau Bai sudah terjadi.

“Kini, kapal yang bisa masuk hanya dengan tonase tiga ribu ton berarti macet distribusi barang di Bengkulu. Kapal ke alur sejauh ratusan meter. Ini, berdampak merugikan semua pihak, tidak saja pengusaha, namun juga pihak pemerintah,” katanya.

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved