Kurangnya Sosialisasi Penyebab Penerimaan Tax Amnesty Jauh dari Harapan

Upaya pemerintah meningkatkan sektor pendapatan dari penerapan program tax amnesty, belum diimbangi dengan sosialisasi secara luas.

Kurangnya Sosialisasi Penyebab Penerimaan Tax Amnesty Jauh dari Harapan
Warta Kota/Feryanto Hadi
Aacara sosialisasitax amnesty yang digelar Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jakarta (LKBH-STHI Jakarta) di Hotel Fiducia, Jakarta Selatan, Rabu (24/8/2016). 

WARTA KOTA, JAKARTA - Upaya pemerintah meningkatkan sektor pendapatan dari penerapan program pengampunan pajak atau tax amnesty, belum diimbangi dengan sosialisasi secara luas.

Hal itu menjadi penyebab nilai tebusan yang didapat hingga pekan ketiga Agustus, masih jauh dari harapan.

Sejak diluncurkan pada 18 Juli hingga 20 Agustus, total pemasukan dari tax amensty Rp 857 miliar. Padahal, target penerimaan dana dari program ini sebesar Rp 165 triliun.

“Masalah utamanya memang soal sosialiasi yang sangat kurang. Banyak masyarakat, termasuk pengusaha bahkan pejabat yang justru bertanya kepada saya apa itu sebenarnya tax amnesty dan bagaimana teknisnya,” kata Ajib Hamdani, Ketua HIPMI Tax Center saat mengisi acara sosialisasitax amnesty yang digelar Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jakarta (LKBH-STHI Jakarta) di Hotel Fiducia, Jakarta Selatan, Rabu (24/8/2016).

Yang menjadi catatan penting, kata Ajib, pemerintah terkesan terburu-buru ketika mengetuk palu Undang-undang soal pengampunan pajak, tanpa terlebih dahulu melakukan sosialisasi mengenai hal-hal substansial kepada masyarakat.

“Idealnya satu atau dua bulan sebelumnya draft aturan sudah ada dan disosialisasikan sebagai bahan evaluasi pemilik uang atau wajib pajak. Sementara, sekarang waktu terus berjalan dan dibayangi dengan target besar, dan kenapa baru sekarang digencarkan sosialisasi. Akibatnya pemerintah mendapatkan kritik dari berbagai pihak karena hasil dari program ini masih jauh dari target,” jelas Ajib yang juga seorang pakar pajak.

Selain itu, imbuhnya, banyak kalangan yang menyangka tax amnesty hanya soal pemindahan uang dari luar negeri (repatriasi) dengan tarif tebusan rendah. Padahal, program ini juga mengatur hal-hal lain seperti deklarasi asset hingga Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

“Kenyataanya banyak pelaku usaha, termasuk UMKM yang sampai saat ini tidak membayar pajak atau tidak melaporkan pendapatan secara benar. Padahal itu sebenarnya sebuah potensi pendapatan negara yang besar,” katanya.

Ajib mewakili HIPMI mengaku telah memantau ke beberapa provinsi, dan tingkat pengetahuan masyarakat terutama para pengusaha memang masih sangat minim terhadap program tersebut.

“Harusnya sosialisasi dilakukan secara spartan dan menyeluruh. Kalau kami dari HIPMI pasti membantu dengan sosialisasi ke seluruh wilayah Indonesia. Target kami 35 ribu pengusaha bisa mensukseskan program ini demi kemajuan bangsa,” katanya.

Alasan lain belum maksimalnya penerimaan dari program ini, kata Ajib adalah aturan yang yang dibuat pemerintah dalam program ini belum detail dan belum bisa merespon kebutuhan pasar.

“Jadi harusnya substansi-substansi di dalamnya harus dijelaskan lebih gamblang. Selama ini kan keluarnya aturan tidak bersamaan, bisa dilihat kemunculan-kemunculan PMK (Peraturan Menteri Keuangan) untuk mendukung hal ini juga keluar secara bertahap dan harus kembali disosialisasikan ke kalangan luas,” jelasnya.

Arif Permana selaku Ketua Pelaksana dari LKBH-STHI Jakarta berharap dengan banyaknya sosialisasi tax amnesty yang dilakukan, makin banyak masyarakat yang memahami dan turut mensukseskan program pemerintah ini.

“Sebab kita tahu bersama bahwa program ini tujuannya demi kemajuan bangsa. Banyak yang akan meraakan manfaatnya, mulai dari pengusana, investor dan yang penting bagi masyarakat karna uang yang didapatkan dari program ini nantinya untuk mendorong pembangunan nasional,” jelasnya.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved