Hukuman Mati

Kontras Menyayangkan Sikap Johan Budi yang Sepelekan Penyelamatan Freddy Budiman

Koordinator KontraS minta ijin dulu ke jubir Presiden Johan Budi sebelum mempublikasikan soal bisnis narkoba Freddy Budiman

Kontras Menyayangkan Sikap Johan Budi yang Sepelekan Penyelamatan Freddy Budiman
Warta Kota/Rangga Baskoro
Koordinator Lapangan KontraS Haris Azhar saat memberi keterangan pers di kantornya, Jumat (29/7/2016). 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Rangga Baskoro

WARTA KOTA, SENEN  -- Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang Dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar nyatakan bahwa dirinya meminta ijin sebelum mempublikasikan tulisannya tentang bagaimana Freddy menjalankan bisnis narkobanya di Indonesia.

"Saya telepon Johan Budi pas Senin sore, dia kaget, dia bilang jangan dipublikasikan dulu, Saya iyain, karena katanya mau dibicarakan ke Pak Presiden," ungkap Haris di Kantor KontraS, jalan Kramat II No 7, Senen, Jakarta Pusat, pada Jumat (29/7).

Ia akhirnya menunggu konfirmasi dari Johan Budi (Jubir Jokowi_red)  dengan harapan dirinya dapat membicarakan hal tersebut ke Presiden Joko Widodo.

"Tapi saya tunggu dari Senin sore sampai Kamis maghrib tidak ada kabar sedikit pun dari dia, akhirnya tulisan saya kirim ke Johan Budi setelah dipublikasikan, dalam hitungan menit dia telepon ke saya," katanya.

Setelah itu Haris menyatakan permintaan maafnya kepada Johan Budi karena dirinya harus mengikari janji demi kepentingam yang lebih besar.

"Saya harus ingkari janji. Urusan penegakkan hukum itu yang utama. Saya minta maaf kepada Pak Johan Budi. Dia bilang silahkan bicara langsung ke Pak Presiden karena dia tidak tahu kalau Freddy dieksekusi malam ini, masih ada waktu. Meskipun ia tidak mengetahui respon Pak Jokowi nantinya," ucap Haris.

Haris mengaku kecewa dengan Johan Budi yang dianggap tidak dapat mengakomodir dirinya dengan Presiden yang notabene adalah orang yang dapat menunda eksekusi Freddy Budiman.

"Menyesal saya memberitahu ke Johan Budi," kata Haris.

Selain itu, ia juga mengaku telah menghubungi Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Slamet Pribadi sebelum mempublikasikannya.

"Saya juga telepon Humas BNN (Slamet Pribadi), Saya ijin ke berbagai pihak sebelum posting," ucap Haris.

Mempublikasikan pengakuan Freddy Budiman dianggap Haris sebagai hal yang penting untuk membongkar kasus peredaran narkoba di Indonesia yang melibatkan oknum di instansi kepemerintahan.

"Ada kepentingan lebih besar dari sekedar menyelamatkan seorang terdakwa dari hukuman mati. Karena menurut saya Freddy Budiman ini saksi kunci untuk membongkar peredaran narkotika di Indonesia, kalau orangnya saja sudah mati, bagaimana bisa kita bongkar?" tuturnya. (Rangga Baskoro)

Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help