Jadi Petugas Pelayanan Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) Beresiko Tinggi

Namun, terlepas dari stigma negatif tersebut, profesi petugas P3S sangat mulia, walau kerap berhadapan dengan aksi kekerasan.

Jadi Petugas Pelayanan Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) Beresiko Tinggi
Warta Kota/Dwi Rizki
Petugas Pelayanan Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S). 

WARTA KOTA, GAMBIR - Mungkin terlihat kejam atau tidak manusiawi ketika seorang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), khususnya pengamen anak-anak ataupun orang lanjutan usia diamankan petugas Pelayanan Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S). Namun, terlepas dari stigma negatif tersebut, profesi petugas P3S sangat mulia, walau kerap berhadapan dengan aksi kekerasan.

Berseragam lapangan berwarna biru berpadu celana hitam, sejumlah petugas P3S yang biasa berjaga di setiap persimpangan jalan kerap kali terlewat dari pandangan. Pengendara jalan hanya terus melaju dan menoleh apabila ada pengamanan PMKS di jalan.
Sosok Petugas P3S Dinas Sosial DKI Jakarta maupun Suku Dinas Sosial lima wilayah Jakarta lainnya memang tidak menonjol seperti petugas Kepolisian maupun Satpol PP di lapangan. Keberadaan mereka kerap tersamarkan dan tidak terlihat hanya untuk menjaring masyarakat golongan malas.

Tugas mereka pun mulia, karena bukan hanya sekedar menertibkan, aksi mereka justru bertujuan untuk menyelamatkan para PMKS agar dapat mandiri dan bukan menjadi penyakit masyarakat.

Kasudin Sosial Jakarta Pusat, Susana Budi Susilowati juga menyampaikan bila menjadi seorang petugas P3S memiliki resiko yang tinggi. Sebab, PMKS yang harus dihadapi setiap hari memiliki berbagai karakter, mulai dari Orang Dalam Masalah Kejiwaan (ODMK) yang mengamuk hingga pengemis yang membawa senjata tajam.

Resiko pekerja tersebut diungkapkannya seperti yang dialami oleh Leman, seorang petugas P3S Sudin Sosial Jakarta Pusat. Leman mengalami penyerangan ketika hendak melakukan penjangkauan seorang pengemis perempuan bernama Yeni di Jalan Sabang, Menteng, Jakarta Pusat pada Sabtu (23/7) siang.

Pergelangan tangan kanan Leman disampaikannya terluka sepanjang sekitar 5 cm karena disabet pisau cutter oleh Yeni. Beruntung, luka sayatan yang terbilang dalam itu tidak mengenai pembuluh darah, Leman kemudian dibawa ke Puskesmas Kecamatan Menteng bersamaan Yeni yang juga ikut terluka.

"Ketika diamankan, pengemis tersebut mengeluarkan cutter, sempat terjadi rebutan cutter sampai akhirnya Leman terluka. Petugas yang terluka segera dibawa ke Puskesmas Kecamatan Menteng dan mendapatkan lima jahitan," ungkapnya.

Sementara, lanjutnya, Yeni yang sedikit terluka gores tidak mau diobati, Yeni justru meludahi dokter ketika hendak diperiksa. Menurut keterangan dokter, ungkapnya, pengemis tersebut masuk kategori ODMK ringan, karenanya setelah diobati, petugas kemudian membawa Yeni ke Panti Asuhan Bina Insan (PSBI) Bangun Daya I Kedoya, Jakarta Barat.

"Walau tinggi resiko, petugas mendapat asuransi kesehatan dan asuransi tenaga kerja dari pemerintah. Sehingga kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, mereka bisa berobat ke rumah sakit," jelasnya.

Terkait insiden tersebut, dirinya menilai bila petugas selayaknya diberi peralatan pengamanan demi menjaga keselamatan, baik bagi petugas maupun para PMKS. Pasalnya, alat pengamanan diri tersebut sangat dibutuhkan apabila pendekatan persuasif maupun kemanusiaan sudah tidak berhasil.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Adi Kurniawan
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved