Nihiwatu Resort Sumba Terpilih Sebagai Hotel Terbaik Dunia

Nihiwatu, hotel yang terletak di Desa Hobawawi, Wanukaka, Sumba Barat, Nusa Tenggara Barat, terpilih menjadi hotel terbaik di dunia.

Nihiwatu Resort Sumba Terpilih Sebagai Hotel Terbaik Dunia
Warta Kota/Ichwan Chasani
James Mc Bride, Managing Partner Nihiwatu memberikan cinderamata kepada Menteri Pariwisata, Arief Yahya, disaksikan Bupati Sumba Barat, Agustinus Niga Dapawole di Balairung Soesilo Sudarman, Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (18/7/2016). 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Nihiwatu, hotel yang terletak di Desa Hobawawi, Wanukaka, Sumba Barat, Nusa Tenggara Barat, terpilih menjadi hotel terbaik dunia lewat ajang “World Best Award 2016” yang dilansir majalah terkenal Amerika, Travel + Leisure.

Pemenang ditentukan berdasarkan hasil survey pembaca majalah itu.

Dengan skor tertinggi (98,35), Nihiwatu bahkan mengalahkan hotel bertaraf internasional lainnya seperti The Spectactor di Charleston, South Carolina (97,78) dan Huka Lodge di Taupe, New Zealand (97,65). Selain Nihiwatu, The St.Regis Bali Resort, Nusa Dua, Bali juga masuk peringkat 35 hotel terbaik versi majalah tersebut.

James Mc Bride, Managing Partner Nihiwatu dalam konpers yang digelar di Balairung Soesilo Sudarman, Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (18/7/2016) mengatakan bahwa Nihiwatu meraih skor tertinggi untuk kategori ecotourism  karena menjadi destinasi di mana petualangan aktif dan kemewahan dipadukan serasi dengan unsur budaya lokal di lingkungan yang eksotis dan otentik.

Meski sebagian besar pengunjung saat ini adalah kalangan wisatawan mancanegara, namun pengelola menargetkan pengunjung dari mana saja, termasuk wisatawan domestik. “Kami ingin meraih semua kalangan pengunjung, terutama dari Jakarta. Tak perlu jauh-jauh pergi ke negeri lain, bahwa di sini, di Nihiwatu sudah ada resort yang diakui nomor satu dunia,” katanya.

James menambahkan, bahwa sebelum hotel itu beroperasi, para pendiri hotel tersebut telah lebih dulu mendirikan Sumba Foundation, sebuah lembaga nirlaba yang menghimpun dana untuk memberdayakan masyarakat di sekitar lokasi hotel. Kini, donatur terbesar lembaga tersebut adalah para tamu hotel yang sekitar 70 persennya selalu kembali berkunjung.

Setiap tahun, para tamu hotel itu bisa mengumpulkan hingga 700 USD untuk berbagai program pemberdayaan masyarakat seperti membangun klinik malaria, hingga membantu ibu hamil karena kematian ibu dan anak di lokasi tersebut masih tinggi.

“Kami ingin terus berkembang bersama masyarakat dan mempromosikan negeri ini sebagai negeri terindah,” katanya.

Nihiwatu memiliki vila tiga kamar berbentuk rumah pohon, terletak di atas tebing, dan menghadap langsung ke Samudera Hindia. Ada lebih 33 akomodasi villa dengan kolam renang pribadi, serta pemandangan eksotis ke Pantai Nihi.

Beragam aktifitas bisa dilakukan di resor ini mulai paket ‘safari spa’ sampai eksplorasi pulau. Wisatawan dapat trekking ke beberapa air terjun, pesawahan, desa lokal dan desa seniman. Ada pula piknik makan siang komplit dengan jamuan kelapa segar yang baru jatuh dari pohon.

Bupati Sumba Barat, Agustinus Niga Dapawole mengatakan bahwa interaksi antarkaryawan dengan manajemen di hotel tersebut diciptakan suasana kekeluargaan sehingga mereka yang bekerja dan manajemen layaknya sebuah keluarga. Saat ini, kata dia, ada 400 karyawan lokal yang gajinya bisa menjadi Rp 5 juta, atau lebih tinggi dari UMR setempat.

“Pengelola juga telah membayar pajak sampai Rp 1,8 miliar. Daerah pantai selatan kami memang berpotensi, masih ada beberapa pantai lain seperti pantai Marosi, Mambang, Lailiang, dan Rua. Di Sumba Barat itu, ada kota, di atas kota ada kampung. Kotanya terang, kampungnya gelap, tapi tidak ada kecemburuan. Ada 25 kampung situs, dan kami sangat menghormati sampai saat ini,” kata Agustinus.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengatakan bahwa sebelum ini, juga telah ada berbagi penghargaan serupa bagi pengelola hotel lainnya di Indonesia. Saat ini, kata dia, wisata berbasis alam, menyumbang sekitar 35 persen jumlah pengunjung, dan separuh diantaranya merupakan ecotourism.

“Ecotourisme itu berdasarkan prinsip ECE (environment, community, and economic). Penghargaan ini contoh yang baik. Saya dengar 90 persen pekerjanya adalah warga lokal, dan tetap menjaga kelestarian alam. Sustainable tourism itu semakin dilestarikan semakin mensejahterakan. Ini bisa jadi model bagi hotel lainnya,” kata Arief Yahya.

Penulis: Ichwan Chasani
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved