Home »

News

Tito Karnavian dan Strategi Berlapis Berantas Teroris

Kepala BNPT Komjen Tito Karnavian pada 8 Juni 2016 di Sydney Australia menyampaikan serangan teroris yang terjadi saat ini merupakan gelombang kedua.

Tito Karnavian dan Strategi Berlapis Berantas Teroris
(TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)
Ilustrasi : Polisi usai melakukan penggeledahan di kawasan Delima Setu, Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (1/1/2014). Densus 88 Antiteror Polri sebelumnya melakukan penyergapan dan menembak mati 6 orang terduga teroris di Ciputat. 

WARTA KOTA, JAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Komjen Tito Karnavian pada 8 Juni 2016 di Sydney Australia menyampaikan serangan teroris yang terjadi saat ini merupakan gelombang kedua aksi teroris yaitu neksus (gabungan) antara jaringan Al Qaeda dan Al-Jamaah Islamiyah.

Jamaah Islamiyah adalah jaringan teroris satu-satunya yang aktif di kawasan melingkupi Malaysia, Indonesia, Filipina bagian Selatan, hingga beberapa daerah di Australia. Kekuatan neksus tersebut karena ketersediaan ideologi, keuangan dan senjata.

Tito mengemukakan hal tersebut ketika menjadi salah satu pembicara pada "Australia-Indonesia Ministerial Council on Law and Security".

Tito yang kini calon tunggal Kapolri, adalah anggota rombongan pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan.

Mereka bertemu dengan Jaksa Agung Australia George Brandis Menteri Kehakiman yang juga Menteri Khusus Urusan Terorisme Michael Keenan mantan Duta Besar Australia untuk Indonesia Greg Moriarty yang saat ini menjawab sebagai Koordinator Badan Nasional Anti Terorisme Australia.

Menurut Tito Karnavian, gelombang kedua teroris ditandai dengan berjayanya kelompok ISIS mulai 2013 yang dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi di Suriah dan Irak dan merupakan amalgamasi (percampuran dua elemen) tauhid jihad Irak yaitu Al-Qaeda in Iraq (AQI) dan bekas tentara Saddam Husein.

ISIS mengokupasi wilayah yang tidak bertuan secara hukum karena kerumitan politik internal Suriah yang terbagi atas sejumlah kepentingan. Begitu pula negara-negara besar terbagi karena ada yang membela pemerintah Surian dan ada yang mendukung kaum pemberontak.

"Serangan di Jakarta jelas menunjukkan bahwa hal itu bukan inisiatif lokal tapi sepenuhnya tindakan ISIS yang ingin menciptakan Paris attack di Jakarta. Serangan itu bahkan diinisiasi oleh teroris yang dipenjara di Nusa Kambangan," jelas Tito.

Strategi berlapis

Untuk menangani dan juga mencegah serangan teror, maka Indonesia pun harus meyakinkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia dan juga Inggris untuk bersatu melawan ISIS.

Halaman
123
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help