Warga Geram Jalan Ditutup, Minta segera Dibuka

Penutupan jalan diprotes warga Pesanggrahan.

Warga Geram Jalan Ditutup, Minta segera Dibuka
Panji Baskhara Ramadhan
Ilustrasi penutupan jalan. 

WARTA KOTA, PESANGGRAHAN -- Kalangan warga mengecam penutupan jalan yang terjadi.

Perasaan geram bercampur gelisah masih dirasakan seluruh warga RT 13/03 Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan saat ini. Bukan tanpa sebab, Gang HS II yang merupakan akses jalan warga ditutup saat ini, dua orang warga pun dilaporkan kepada pihak Kepolisian lantaran disangkakan mrlakpengusakan pagar beton penutup jalan.

Rasa galau warga tersebut seperti yang diungkapkan oleh Sofyan (43) warga setempat. Dirinya mengaku keberatan atas penutupan jalan setapak yang menghubungkan permukimannya dengan Jalan H Misan. Apalagi, gang selebar 1,5 meter tersebut merupakan akses jalan warga satu-satunya yang telah ada lebih dari puluhan tahun.

Karena itu, lanjutnya, ketika pihak kontraktor melakukan pemagaran beton tepat di muka jalan, belasan ibu-ibu bergerak dan melakukan pembongkaran pada Sabtu (5/4) lalu. Terkait hal tersebut, dua orang warga, ayah dan anak, yakni I (Idris) (58) dan A (Agus) (33) dilaporkan kepada pihak Kepolisian Sektor Pesanggrahan lantaran disangkakan melakukan pengerusakan pagar.

"Warga semuanya nolak karena memang itu lahan wakaf yang dijadiin jalan warga selama bertahun-tahun. Tapi yang bikin warga, khususnya ibu-ibu sini marah ya karena mereka mengakui lahan dan langsung nutup jalan tanpa ada musyawarah dulu sama warga," ungkapnya kesal.

Ditemui bersamaan, keluhan lainnya juga disampaikan oleh Rudi (47) pengurus RT 13/03 Petukangan Utara. Dirinya mengaku bila pihak kontraktor tidak melaporkan kegiatan pekerjaan pembangunan, berupa pembangunan tembok beton di sekeliling lahan termasuk di atas turap saluran penghubung (PHB) Petukangan Utara.

"Jadi selain jalan warga ditutup, turap kali (saluran PHB-red) juga dibangun tembok. Kalau soal itu, warga sebenarnya nggak terlalu masalah, tapi apa iya dibenarkan kali ditembok dan rencananya bakal ditutup beton," jelasnya menambahkan.

Keterangan keduanya terbukti benar, jalan setapak yang sebelumnya tertutup pagar beton kini terlihat sudah terbuka. Walau begitu, jalan kini masih tertutup bagi warga karena garis polisi masih terpasang melintang, sementara sekeliling bidang tertutup pagar beton setinggi lebih dari tiga meter dengan kawat berduri pada bagian atasnya.

Hal serupa pun terlihat pada badan turap saluran PHB yang membatasi permukiman warga dengan bidang milik kontraktor. Turap sepanjang lebih dari 700 meter itu terlihat dibangun pagar beton oleh pihak kontraktor.

Pelanggaran

Camat Pesanggrahan, Agus Irwanto menyampaikan bila bangunan tersebut telah menyalahi sejumlah peraturan, diantaranya tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB), membangun pagar beton di atas turap saluran penghubung (PHB) Petukangan Utara, membangun tembok lebih dari ketentuan yang berlaku dan memotong jalan warga.

Tidak hanya itu, pelanggaran juga dikatakannya terjadi pada penebangan sejumlah pohon berukuran besar yang sebelumnya berdiri di sepanjang saluran PHB Petukangan Utara. Padahal, lanjutnya, proses penebangan pohon tersebut sebelumnya harus diketahui dan disetujui pihak Sudin Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Selatan.

"Kita sudah lakukan pemeriksaan terkait keluhan warga, baik perizinan dan fisik di lokasi. Diketahui bila IMB mereka palsu, pagar beton juga dibangun tiga meter, padahal seharusnya batas tinggi pagar cuma setinggi 1,5 meter dan tidak boleh tertutup penuh. Soal penebangan pohon juga begitu, mereka asal tebang saja," jelasnya kepada Warta Kota di kantornya pada Rabu (18/5/2016).

Sementara itu, terkait keluhan warga atas penutupan jalan setapak yang berada di RT 13/03 Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, dirinya menyampaikan akan melakukan pemeriksaan bidang di Sudin Dinas Tata Ruang Jakarta Pusat. Sehingga diketahui batas bidang antara milik kontraktor dengan warga.

"Kalau permasalahan penutupan jalan akan kita cek ke Sudin Tata Ruang Jakarta Selatan, batasnya sampai mana, apakah masih punya mereka atau justru jalan permukiman. Dalam waktu dekat, semua bangunan termasuk pagar akan kita bongkar," katanya.

Pasca pembongkaran pagar yang dilakukan warga pada Sabtu (5/4/2016) lalu, pihak Kepolisian Sektor Pesanggrahan masih menutup jalan setapak warga dengan garis polisi. Akibat penutupan tersebut, akses jalan warga RT 13/03 Petukangan Utara kini hanya berada pada Jalan HS II menuju Jalan Radin atau berputar jauh sekitar 500 meter melewati gang permukiman warga.

Walau disesalkan warga, pemasangan garis polisi tersebut disampaikan Kapolsek Pesanggrahan, Kompol Afroni harus dilakukan, mengingat laporan adanya perkara pengerusakan dari pihak kontraktor masih didalami pihaknya. Sebaliknya, pencopotan garis polisi baru akan dilakukan apabila penyidikan perkara telah selesai dilakukan.

"Garis polisi masih dipasang karena perkara masih dalam penyelidikan, sejumlah warga dan pihak kontraktor sudah dipanggil untuk dimintai keterangan. Jadi untuk sementara warga diminta kebijaksanaannya sampai perkara selesai," katanya.

Lahan Kostrad

Penutupan jalan tersebut diungkapkan Pengawas Proyek, Satrio tidak melanggar ketentuan sebab lahan seluas lebih dari tiga hektar persegi itu merupakan milik Hartoko yang sebelumnya telah dibeli dari pihak Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad) pada tahun 1995.

Namun, lahan tersebut terbengkalai dan tidak dimanfaatkan selama lebih dari 20 tahun, sehingga menurutnya, wajar apabila pemilik memanfaatkan kembali lahan pribadinya.

"Lahan ini semua milik bos, pak Hartoko. Dia sebelumnya sudah beli dari Kostrad, malahan saluran ini (PHB Petukangan Utara-red) juga punya beliau. Tapi karena nggak dibangun, lahan dijadikan jalan warga, jadi wajar kalau kami tutup karena lahan mau kita manfaatkan," jelasnya ditemui Warta Kota di lokasi pembangunan, Rabu (18/5/2016).

Sementara itu, terkait pelanggaran yang disebutkan oleh Camat Pesanggrahan, Agus Irwanto, dirinya mengaku tidak khawatir. 

Sebab, IMB telah didapatkannya dari Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kantor Walikota Jakarta Selatan, hal serupa pun dikatakannya pada perizinan lainnya.

"Kita sudah urus permohonan IMB dan sudah disetujui di PTSP Walikota Jakarta Selatan, jadi anggapan kalau IMB kita palsu itu salah. Kita juga nggak keberatan tunjukkan berkas mulai dari sertifikat sampai IMB kalau ada petugas yang datang," kata dia.

Minta Jalan Dibuka

Wali Kota Jakarta Selatan meminta kalau tanah milik warga jangan ditutup karena untuk akses jalan masyarakat. 

Sedangkan, kalau milik pengembang diminta untuk memberikan toleransi kepada warga sekitar.

"Saya minta ada toleransi buat warga lewat. Kalau tanahnya milik warga ngga boleh ditutup," kata Tri.‎
Penulis: Bintang Pradewo
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help