Pembatasan Kuota Impor Rawan Praktek Rente Ekonomi

Menurut Yose Rizal Damuri, dengan terjadinya pembatasan, sering terjadi perbedaan harga yang tinggi.

Pembatasan Kuota Impor Rawan Praktek Rente Ekonomi
Tribunnews.com

WARTA KOTA, TANAH ABANG - Ketua Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri mengatakan kebijakan pemerintah dengan menerapkan sistem pembatasan melalui kouta impor sangat rawan dengan terbentuknya praktek rente ekonomi.

Yose menyikapi keputusan pemerintah yang memberlakukan pembatasan kouta impor terhadap produk jagung dan kedelai pakan ternak.

"Jika disparitas harga dalam negeri dan di internasional semakin lebar maka peluang terjadi kartel semakin kuat,'' kata dia, Jumat (6/5).

Yose mengatakan, untuk urusan kebijakan pangan, pemerintah Indonesia kerap kali melakukannya dengan pendekatan kebijakan perdagangan, salah satunya tercermin melalui pembatasan impor.

Menurut dia, dengan terjadinya pembatasan, sering terjadi perbedaan harga yang tinggi.

''Kita perlu melihat lagi kebijakan pembatasan tersebut, apalagi dengan adanya evaluasi 6 bulan. Rasanya itu tidak responsif terhadap keadaan,'' kata dia.

Akibatnya, kata dia, yang terjadi adalah munculnya disparitas harga antara dalam dan luar negeri.

Justru inilah yang membuat menjadi tidak efektif dan rawan terhadp rente ekonomi, salah satunya, kata dia, pernah terjadi pada kasus sapi 2014.

Dalam kebijakan beras, Yose juga menilai pembatasan melalui sistem kuota itu terus dilakukan sehingga membuat harga beras berisiko naik hingga 25 persen pada 2020.

Apabila pembatasan impor dihilangkan, harga beras pada saat itu berpotensi turun 14,47 persen.

Halaman
12
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help