Jakarta Pusat Masih Rawan Praktek Aborsi

Janin bayi yang terlihat masih kemerahan itu sudah dalam kondisi organ tubuh lengkap.

Jakarta Pusat Masih Rawan Praktek Aborsi
Kompas.com
Ilustrasi. 

WARTA KOTA, MENTENG - Walau telah dilakukan penggerebekan sekaligus penangkapan para pelaku jasa aborsi di kawasan Jalan Raden Saleh Menteng, Jakarta Pusat oleh Direktorat Sumdaling Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya pada Jumat (19/2) lalu, wilayah Jakarta Pusat rupanya masih rawan praktek aborsi hingga kini.

Hal tersebut dibuktikan dari banyaknya temuan jenazah bayi yang ditemukan di wilayah Jakarta Pusat, diantaranya di wilayah Sawah Besar pada Minggu (17/1), Senen pada Senin (18/1), dan Johar Baru pada hari ini, Senin (18/4).

Jenazah yang keseluruhannya ditemukan warga sudah dalam keadaan tidak bernyawa itu diketahui berusia kurang dari seminggu setelah dilahirkan.

Mirisnya, bukan hanya tubuh bayi sudah dalam kondisi lengkap, keseluruhan jenazah bayi diketahui sudah tidak utuh lantaran diduga dimakan hewan ataupun terbentur sampah maupun dasar kali yang berbatu.

Hal tersebut seperti yang terlihat pada janin bayi yang ditemukan warga di Kali Sentiong, tepatnya Jalan T RT 09/03 Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat pada Senin (18/4).

Janin bayi yang terlihat masih kemerahan itu sudah dalam kondisi organ tubuh lengkap.

Sehingga diperkirakan warga bila janin berukuran panjang sekira 25 cm itu berusia lebih dari enam bulan.

Temuan tersebut diungkapkan Kasudin Sosial Jakarta Pusat, Susana Budi Susilowati hal tersebut merupakan bukti masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.

Sebab, lanjutnya, apabila diketahui adanya praktek aborsi, masyarakat dapat melakukan pelaporan kepada pihak berwajib. Sehingga praktek tindak pidana aborsi dapat dicegah sejak dini.

"Faktor terpenting dalam praktek aborsi ini adalah pengawasan lingkungan, sehingga pencegahan dapat dilakukan. Karena seperti diketahui kalau klinik praktek aborsi disamarkan layaknya klinik kebidanan ataupun rumah pribadi, klinik juga berada di tengah permukiman warga, jauh dari pengawasan," ungkapnya.

Sementara itu, mengenai faktor pemicu aborsi, diungkapkannya berasal dari faktor ekonomi, status sosial hingga tuntutan pekerjaan sang ibu yang mungkin merupakan wanita rawan sosial (Pekerja Seks Komersial-red).

"Praktek aborsi ini adalah permasalahan klasik yang terjadi telah lama. Tapi, buka tidak bisa dicegah, kuncinya hanya berasal pengawasan dan kepedulian masyarakat dengan lingkungannya, sehingga permasalahan dapat diselesaikan tanpa harus melalui aborsi," tutupnya. (dwi)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help