WartaKota/
Home »

News

» Jakarta

Lahir dan Besar di Rumah Dinas, Noni Sedih Meninggalkan Rumah

Kenangan dan harapan Noni Martini (25), salah satu anak penghuni rumah dinas milik PT KAI di Jalan Bungur Besar Raya RT 20/04 Senen, telah sirna.

Lahir dan Besar di Rumah Dinas, Noni Sedih Meninggalkan Rumah
Warta Kota/Dwi Rizki
Kenangan dan harapan Noni Martini (25) salah satu anak penghuni rumah dinas milik PT Kereta Api Indonesia di Jalan Bungur Besar Raya RT 20/04 Kelurahan Senen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat kini telah sirna seiring dengan pengosongan sekaligus pembongkaran rumah yang telah dihuninya sepanjang hidupnya. 

WARTA KOTA, SENEN - Kenangan dan harapan Noni Martini (25), salah satu anak penghuni rumah dinas milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Jalan Bungur Besar Raya RT 20/04 Kelurahan Senen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat kini telah sirna seiring dengan pengosongan sekaligus pembongkaran rumah yang telah dihuninya sepanjang hidup.

Tidak hanya sedih lantaran meninggalkan rumah, dirinya mengaku tidak tega lantaran kedua orangtuanya harus diusir paksa petugas saat penertiban pada Kamis (14/4/2016).

Jauh dari hingar bingar penolakan keras yang disampaikan warga, Noni yang tinggal bertiga dengan kedua orangtuanya, Tri Wahyuningsih (60) dan Tabrani (65) itu mencoba mengeluarkan sendiri seluruh perabot rumah yang masih tertinggal ke seberang jalan.

Maklum, kedua orangtuanya yang telah berusia lanjut memang sudah tidak berdaya untuk mengangkat beban berat.

Melihat kondisi tersebut, beberapa tetangga yang sebelumnya bergerumul menyaksikan jalannya penertiban itu akhirnya tergerak dan ikut membantu Noni.

Seluruhnya terlihat berjibaku mengalahkan gerak cepat belasan petugas PT KAI yang sedang mengeluarkan perabotan di sebelah rumah Noni persis.

Namun, sekira setengah jam bekerja, semangat Noni sepertinya meredup, perempuan lajang itu mengaku pasrah saat petugas mendatangi rumahnya.

Benar saja, seluruh perabot berukuran besar seperti meja, lemari hingga dipan berbahan kayu jati dalam sekejap berpindah tempat ke luar rumah.

Dirinya hanya bisa pasrah dan mencoba memapah ayahnya keluar rumah menuju teduhan pohon seberang rumah.

Dirinya mengakui bila penertiban tersebut sangat menyakiti hatinya, karena bukan hanya rumah yang dihuninya sejak lahir dan besar telah direbut paksa, tenggat waktu yang diberikan pihak PT KAI terbilang sangat cepat, yakni hanya tiga pekan sebelum penertiban dilakukan.

Halaman
12
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help