Properti

Survei : 2016, Pasar Properti Masih Diminati

Hasil survei Property Affordability Sentiment Index 2015, yang dilakukan oleh portal properti Rumah.com bersama konsultan pemasaran internasional Adde

Survei : 2016, Pasar Properti Masih Diminati
Shutterstock
Ilustrasi 

WARTA KOTA, JAKARTA - Hasil survei Property Affordability Sentiment Index 2015, yang dilakukan oleh portal properti Rumah.com bersama konsultan pemasaran internasional Added Value Saffron Hill, mengungkapkan bahwa masyarakat masih meminati pasar properti pada tahun 2016.

Dari 1.070 responden yang disurvei pada November--Desember 2015, 63 persen di antaranya berencana membeli properti dalam enam bulan ke depan.

Sementara itu, sebanyak 61 persen responden menyatakan puas dengan kondisi properti Indonesia, di mana jumlah ini meningkat sembilan persen dari tahun 2013.

"Hasil ini menunjukkan pandangan positif masyarakat terhadap kondisi properti di Indonesia tahun 2016 seiring membaiknya kondisi perekonomian. Infrastruktur yang dibangun pemerintah juga ikut memberi pengaruh penting dalam meningkatkan keyakinan konsumen properti dalam mengambil keputusan," kata Country Manager Rumah.com Wasudewan dalam keterangan tertulis diterima Antara di Jakarta, Senin (28/3/2016).

Survei tersebut juga mengungkapkan 58 responden merasa yakin dengan prospek peningkatan harga properti dalam jangka panjang.

Sementara itu ada 39 persen menganggap pertumbuhan properti dalam negeri sangat bagus pada 2015 dan ada 27 persen menyatakan bunga KPR saat ini sudah relatif rendah.

Optimisme ini pun semakin bertumbuh mengingat Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga sebanyak 75 basis poin dalam tiga bulan awal 2016.

"Penurunan BI Rate diyakini akan diikuti pengurangan suku bunga KPR maupun KPA perbankan. Melihat kondisi ini, tentu masyarakat berharap prospek properti di 2016 ini akan kembali bangkit dan menggairahkan industri properti dalam negeri," ujar Wasudewan.

Walau begitu, survei juga menunjukkan adanya sebagian konsumen properti yang tidak puas terhadap kondisi pada 2015.

Sebanyak 73 persen pelanggan merasa harga properti pada 2015 masih sangat mahal. Kemudian 54 persen lainnya menganggap performa ekonomi dalam negeri tidak terlalu bagus di tahun yang sama.

Selanjutnya ada 49 persen responden yang menganggap harga properti naik terlalu cepat.

"Namun kami yakin jumlah tersebut tidak akan menghalangi masyarakat untuk memiliki properti di tahun 2016," tutur Wasudewan. (Antara)

Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved