Home »

Depok

Mesti Renta, Tunggul Tabah Terima Kematian Dua Anak Perempuannya

Wajah Tunggul Sianipar (81) kelihatan sangat lelah. Kesedihan tampak jelas di wajah, namun ia tetap tabah menerima kematian dua anaknya.

Mesti Renta, Tunggul Tabah Terima Kematian Dua Anak Perempuannya
Tunggul Sianipar (kemeja biru) didampingi seorang pria menantunya saat ditemui Warta Kota di rumahnya di Jalan Melati, Depok Jaya, Pancoranmas, Depok, Jumat (25/3/2016) malam.

WARTA KOTA, DEPOK-Wajah Tunggul Sianipar (81) kelihatan sangat lelah. Kesedihan tampak jelas di wajah tuanya yang keriput.

Meski begitu, Tunggul menyambut hangat saat Warta Kota menemuinya di teras rumahnya di Jalan Melati, RT 5/RW 5, Kelurahan Depok Jaya, Pancoranmas, Depok, Jumat (25/3/2016) malam.

Pensiunan Kemendikbud itu didampingi sejumlah keluarga besarnya. Meski menyimpan duka, tak ada air mata di wajah Tunggul. Ia kelihatan tabah.

Bicaranya yang sedikit bergetar, saat bercerita mengenai kematian dua anak perempuannya, Deborah Sianipar (30) alias Bora dan Jenni Septeria Sianipar (29), menandakan pria 6 anak dan 8 cucu itu berupaya masih memendam duka yang dalam.

"Sudahlah, tak usah diperpanjang dan diungkit-ungkit lagi soal kematian dua anak perempuan saya. Saya ikhlas," ucapnya lirih sambil menatap tajam ke depan.

Semua orang yang didekatnya termasuk Warta Kota, lalu terdiam. Ada jeda cukup lama saat Tunggul bersikap merenung dengan tatapan ke depan. "Kami mau tenang," lanjutnya memecah keheningan.

Tunggul lalu berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah. Tubuhnya terlihat limbung dan sedikit bungkuk. Beberapa kerabat yang hendak mengandengnya tak disambutnya. Ia berjalan masuk sendiri ke dalam rumah dengan agak tertatih.

Tunggul bersama keluarga besar dan kerabat baru saja memakamkan Bora dan Jenni secara berdampingan di TPU Kalimulya, Cilodong, Depok.

Harapan Tunggul untuk melihat Bora dan Jenni menikah, akhirnya sirna. Ia tak menyangka, dua anaknya yang merupakan anak kelima dan keenam atau bungsu itu lebih dulu meninggalkannya.

Tak lama Tunggul kembali keluar dan duduk di bangku yang sama di teras rumah.

Halaman
1234
Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help