WartaKota/
Home »

News

Tip Kesehatan

Menyembuhkan atau Mengintegrasikan Orientasi Seksual LGBTI

LGBTI (lesbian, gay, biseksual, transeksual, dan interseks)—kerap dilihat banyak kelompok masyarakat sebagai suatu gangguan yang perlu ”disembuhkan”.

Menyembuhkan atau Mengintegrasikan Orientasi Seksual LGBTI
Kompas
Ilustrasi. 

Oleh Kristi Poerwandari

Jika kita ingin mendalami topik di atas, telah cukup banyak penelitian yang dilakukan dengan temuan beragam tentang faktor yang berperan terhadap perbedaan identitas jender dan orientasi seksual.

Sejak tahun 1973, homoseksualitas dihilangkan dari Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Jiwa (DSM, dikeluarkan Asosiasi Psikiatri Amerika), yang diacu di banyak negara.

Untuk acuan Indonesia, Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan (1993) juga tidak menggolongkan homoseksualitas sebagai gangguan jiwa.

Bagaimanapun, hingga kini persoalan orientasi seksual dan identitas jender—sekarang yang berlaku akronim LGBTI (lesbian, gay, biseksual, transeksual, dan interseks)—kerap dilihat banyak kelompok masyarakat sebagai suatu gangguan yang perlu ”disembuhkan”.

Orangtua merasa sangat cemas dan khawatir anaknya ketularan. Yang jatuh cinta kepada teman sejenis dianggap membuat malu keluarga dan mungkin dipaksa menjalani terapi dan diminta menikah.

Individu transjender atau transeksual (waria) dapat mengalami banyak hambatan untuk memberdayakan diri karena ditolak keluarga, diolok-olok lingkungan, dan bingung harus bekerja di mana yang dapat menerima mereka dengan terbuka.

Dari luar, individu mengalami banyak tantangan, dipersalahkan karena dianggap berperilaku tidak sesuai dengan kaidah moral dan harus disembuhkan.

Dari dalam, kondisi diri yang berbeda membuatnya merasa bingung dan tidak nyaman. Perlakuan dari lingkungan dapat membuat diri makin cemas, menginternalisasi stigma diri negatif, dan menjadi depresif.

Dalam kasus interseks, persoalannya menjadi lebih kompleks karena jelas terkait juga dengan aspek biologi.

Halaman
1234
Editor: Andy Pribadi
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help