Daya Tarik Yogyakarta sebagai Ubud di Pulau Jawa yang Memikat

Yogyakarta menjadi salah satu destinasi utama yang selalu dikunjungi wisatawan.

Daya Tarik Yogyakarta sebagai Ubud di Pulau Jawa yang Memikat
bumn.go.id
Ilustrasi. Loko Cafe Stasiun Yogyakarta. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Yogyakarta merupakan salah satu destinasi yang selalu disinggahi kalangan wisatawan.

Wilayah ini dijuluki sebagai Ubud yang ada di Pulau Jawa, sehingga selalu menjadi destinasi utama untuk kegiatan wisata.

Yogya memang identik dengan kota budaya dan kota pariwisata.
Dari soal kuliner, peninggalan purbakala, heritage keraton, arsitektural gedung-gedung peninggalan Belanda, sampai seni tradisi pun hidup dan berkembang di sana.
Yogya itu seperti Bali-nya Pulau Jawa. 
Kulturnya sangat kental dan itulah daya tarik 60% pariwisata ke Indonesia.‎
Sayang jumlah kunjungan Wisman ke Jogja belum naik dari satu persen.
"Akses masih menjadi persoalan mendasar untuk Joglosemar atau Jogja-Solo-Semarang, dengan ikon Borobudur. Atraksinya, sudahlah, saya tidak perlu berbusa-busa, sudah pasti keren. Budayanya kuat, alamnya bagus, kulinernya wow, seni pertunjukan juga selalu ada, konsisten. Amenitasnya, juga sudah lengkap, apa saja ada di sana,” ujar Menpar Arief Yahya di Jakarta, Selasa (23/2/2016).‎
Jika airport yang baru dengan landasan yang panjang sudah terbangun, lalu jalur kereta menuju Borobudur tuntas, maka promosi Joglosemar bisa digeber habis-habisan.
Saat itu, tiga jangkar Jawa Tengah DIY, Yogya-Solo-Semarang akan terkoneksi dengan baik.
Semua objek wisata yang potensial yang selama ini belum tergarap dengan baik, secara otomatis akan terdongkrak.
"Swasta pun akan ikut berinvestasi di sana, masyarakat juga hidup dengan pariwisata," katanya.‎
Ketua Umum Persatuan Istri ABRI (PIA) Ardhya Garini, Bryan Rachmawati bersama sejumlah pengurus organisasi Persatuan Istri Prajurit TNI Angkatan Udara dan Yasarini Pusat, sempat berkunjung ke Yogya.
Persisnya di Rumah Budaya dan Agrowisata Baru, Omah Kecebong, di Sendari, Sleman.
"Sentuhan budaya Yogya itu sangat dalam. Orang yang berwisata ke Yogya, bisa merasakan atmosfer budaya Jawa yang sangat kental," kata Bryan Rachmawati.‎
Dia bisa membatik, mengenal wayang suket, jelajah alam pedesaan dengan gerobak sapi, yang sudah jarang, bahkan hampir tidak ditemukan lagi di daerah lain, yang menunjukkan kekuatan lokal wisdom.
Dia ingat, bagaimana Bali dikenal oleh wisatawan mancanegara. 
Karena upacara adat, ngaben, pengairan subak, kesenian, patung, dan tradisi dalam memperingati hari-hari penting buat masyarakat Bali.‎
Sementara itu, penggagas Omah Kecebong, Hasan Setyo Prayogo menyebut, suasana pedesaan, tanaman padi, kebun klengkeng, pohon jambu, dan banyak pepohonan langka itu menjadi kekuatan Yogya. 
Termasuk rumah dengan desain kuno, ala Jawa, rumah kayu yang dijadikan resort, lengkap dengan asesorinya yang serba Jawa.
"Kalau di Bali ada Ubud, kalau di Jawa ada di Yogya, suasana yang alami dan bisa merasakan sensasi kembali ke zaman silam," ujar Hasan.  ‎
Selain Yogya, Solo, Semarang, juga Bandung yang sudah mulai banyak inbound yang menjual paket-paket alam.
"Sudah banyak group pelajar-pelajar Singapore yang memilih paket ke Jogja, Solo, Semarang, back to nature. Ada kegiatan menanam padi, main lumpur, membatik, dan lainnya. Dan itu akan semakin banyak jumlahnya, karena di Singapore, tidak ada tempat bermain seperti itu," kata Sulaiman, Staf VITO di Singapore.
Editor: Gede Moenanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved