Tepatkah LGBT?

Perdebatan LGBT seakan tidak pernah habis.

Tepatkah LGBT?
Rahmat Patutie
Komunitas LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, dan Intersexual) menggelar aksi di Bunderah HI, Thamrin, Jakarta Pusat pada Minggu (17/5/2015). 

WARTA KOTA, PALMERAH-Perdebatan LGBT seakan tidak pernah habis. Psikolog Roslina verauli mengatakan, sebelum menentukan tepatkan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transjender)?

Pahami dulu perspektif atau kacamata yang ingin digunakan. Dari kacamata agama, di kita suci agama samawi atau agama yang diyakni merupakan wahyu Allah, LGBT dianggap melampaui batas. Persis seperti yang dikisahkan pada kaum Sodom, umat Nabi Luth. Perilaku seksual mereka dianggap keji.

Dalam riwayat dikisahkan kaum Sodom (yang menjadi asal kata sodomi) hancur beserta kotanya.
Bila ditinjau dari persepektif sosial, pada umumnya masyarakat menganut orientasi heteroseksual. Homoseksual dan biseksual dianggap minoritas bahkan abnormal karena berbeda dari standar perilaku seksual orang kebanyakan.

Bila ditinjau dari persepketif hukum, maka pada negara bagian yng sudah mengatur tentang LGBT dan aturannya membolehkan maka perilaku seksual tersebut dapat diterima.

“Bila ditinjau dari persepektif psikologis, mohon dibedakan psikologis sebagai pakar dibidang psikologi vs psikolog sebagai persona yang memiliki nilai-nilai hidup pribadi,” ujar psikolog yang biasa disapa Vera kepada wartawan Kamis (11/2).

Dalam kerjanya, psikolog berpusat pada kesejahteraan status mental klien. Dalam pengertian, bila LGBT tak menjadikan individunya mengalami, distress secara emosional, terhambat dalam berfungsi pada kehidupan sehari-hari maupun tidak menjadikan perilaku berisiko untuk memburuk, tak bisa dikatakan bahwa ia bergangguan atau masuk kriteria abnormal secara klinis. Individu dengan LGBT tak lantas memiliki gangguan seksual, dan tak lantas pula menjadi bergangguan dalam kepribadiannya.

Bila mereview profil klien penganut LGBT, karier mereka secara umum maju dan kehidupan sosial serta seksual dihayati positif. Tekanan dan konflik umumnya justru bersumber dari penolakan sosial, terutama dari keluarga.

Namun apakah komunitas LGBT butuh diserukan dan dimunculkan? Adalah persoalan berbeda, yang butuh dicermati mendalam. Vera menegaskan, pilihan akan aktivitas dan perilaku seksual sangat pribadi sifatnya. Sehingga layakkah untuk digembar gemborkan ke luar? Ibarat sedang meneriakan pada seisi dunia bahwa anda menikmati doggy style melebihi spoon style.

Perlukah secara umum sekali lagi setiap orang memiliki hak pribadi yang hakiki seperti hak untuk merahasiakan pilihan politik. Misalnya menghujat Donald trump dan menyanjung Hillary Clinton secara berlebihan. Tentu akan ada orang di sekitar kita yang tidak nyaman bahkan terluka dengan pernyataan sikap tersebut.

Tidak membuka pada public tentang pilihan aktivitas seksual tentu tidak sama dengan merahasiakannya dari pasangan seksual. Dalam relasi intim dituntut kejujuran dan keterbukaan terutama tentang pilihan orientasi dan perilaku seksual. Dalam relasi intim tidak dianjurkan untuk menutupi apalagi dengan maksud membohongi atau menipu pasangan.

Ia menegaskan, pernikahan merupakan relasi intim dengan komitmen tertinggi yang melibatkan relasi ekslusif diantara dua orang. Tak seharusnya ada orang ketiga atau ekstra apalagi secara diam-diam. Pahami setiap orang punya hak yang sama untuk memilih aktivitas dan perilaku seksual yang ia inginkan. Membohongi pasangan terutama dengan orientasi seksual yang berbeda sama dengan merampas hak seksualnya.

“Hargai hak dan putusan pribadi orang lain meskipun saling berbeda. Tiap orang memiliki nilai-nilai kehidupan yang ia rasa penting atau tidak. Please be kind pada orang lain, terlepas dari apapun pilihan perilaku seksual anda,” kata Vera. Setuju?

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help