Transportasi

Ini Penyebab Proyek Kereta Cepat Bekasi Molor

Proyek pembangunan transportasi massal jenis Aeromovel (kereta cepat) di Kota Bekasi dipastikan molor.

Ini Penyebab Proyek Kereta Cepat Bekasi Molor
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Ilustrasi : Presiden Joko Widodo bersama rombongan melihat maket kereta cepat saat peletakan batu pertama megaproyek transportasi massal itu, Kamis (21/1/2016), di perkebunan teh Mandalawangi Bagian Maswati di Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Dalam kesempatan itu, sekaligus dicanangkan pengembangan sentra ekonomi koridor Jakarta-Bandung. 

WARTA KOTA, BEKASI - Proyek pembangunan transportasi massal jenis Aeromovel (kereta cepat) di Kota Bekasi dipastikan molor. Pasalnya, proyek yang sedianya dibangun awal Februari 2016 ini, justru masih dikaji oleh pihak konsultan.

"Saat ini sedang dilakukan kajian kelayakan dan perencanaan teknis, serta penentuan fix trace (lokasi tetapnya)," ujar Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi kepada Warta Kota, Senin (8/2/2016) siang.

Pemerintah Daerah awalnya optimis, proyek yang dibangun melalui konsorsium tiga kontraktor, yakni PT PPP Indonesia, PT Cakar Bumi Intergritas dan PT Intiadi Dwi Mitra Sejati, ini bakal dibangun sesuai jadwal.

Rutenya, dari daerah Kemang Pratama, Kecamatan Rawalumbu sampai Harapan Indah Bekasi, Kecamatan Medansatria dengan jarak 12 kilometer.

Adapun lintasannya dibuat melayang di atas dengan ketinggian lima meter dengan jarak masing-masing tiang pancang sejauh 25 meter.

Keberadaan transportasi ini diklaim bisa memangkas waktu perjalanan dari Kemang Pratama-Harapan Indah atau arah sebaliknya dari 45 menit menjadi 30 menit.

Nilai investasi kereta yang mampu mengangkut 300 penumpang untuk sekali jalan ini disebut-sebut mencapai Rp 2 triliun.

Uang sebanyak itu, dibiayai oleh investor swasta bukan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Bekasi.

Keseriusan Pemda Bekasi terhadap transportasi ini kemudian dituang dalam Nota Kesepahaman (MoU) antara pihak yang bersangkutan pada Rabu, 25 Maret 2015 lalu.

Rahmat menyatakan, sambil menunggu hasil kajian itu, pihak ketiga dan pemda sedang menyiapkan berkas untuk menyusun perjanjian kerjasama (PKS) dalam proyek tersebut.

Halaman
123
Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help