Eks Gafatar Menutup Diri Tiba di Bekasi

Sebanyak 900 orang eks Gafatar dari berbagai daerah tiba di Asrama Haji Embarkasi Jakarta-Bekasi, Kota Bekasi, Senin (1/2/2016) pukul 13.00.

Eks Gafatar Menutup Diri Tiba di Bekasi
Warta Kota/Junianto Hamonangan
ILUSTRASI - Sejumlah orang eks Gafatar yang ditampung di PSBI 2 Cipayung, Sabtu (23/1/2016). 

WARTA KOTA, BEKASI - Sebanyak 900 orang eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dari berbagai daerah tiba di Asrama Haji Embarkasi Jakarta-Bekasi, Jalan Serma Marzuki, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Senin (1/2/2016) pukul 13.00. Mereka tiba menggunakan 16 unit bus, dengan rincian 15 unit bus besar dan satu unit bus kecil jenis Elf.

Pantauan di lapangan, setibanya di sana, ratusan eks Gafatar itu langsung diarahkan ke aula Embarkasi oleh petugas dari Kementerian Sosial RI (Kemensos). Mereka lalu didata kembali setibanya dari Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (1/2/2016) pagi.

Kedatangan Rombongan eks Gafatar ini dikawal oleh sejumlah anggota TNI, Polri dan Satpol PP. Saat turun dari bus, mereka membawa sejumlah barang seperti tikar, ransel berisi pakaian, bantal, selimut dan sebagainya. Meski telah tiba, namun ratusan eks Gafatar ini cenderung menutup diri. Mereka enggan menjawab pertanyaan awak media yang dilayangkannya. Beberapa petugas Kemensos, juga melarang awak media untuk bertanya, dengan alasan mereka harus didata terlebih dahulu.

Wajah mereka terlihat lusuh dan lelah setelah melewati perjalanan yang cukup jauh dari jalur darat dan laut. Di aula yang sangat luas itu, mereka duduk santai di lantai. Tak ada komentar dari para eks Gafatar di sana.

Anggota eks Gafatar ini bukan hanya terdiri dari orang dewasa saja, tapi banyak juga dari kalangan anak-anak. Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah eks Gafatar dari kalangan pria dewasa berjumlah 317 orang, wanita dewasa 246 orang, anak-anak pria 175 orang dan anak-anak wanita 162 orang. Sehingga bila ditotal, jumlah eks Gafatar di sana mencapai 900 orang.

Sementara ada 13 orang eks Gafatar yang kini tengah terserang penyakit di sana. Mereka menderita berbagai penyakit seperti demam, batuk, pusing, mual, diare, bisul dan linu tulang. Selain itu, ada lima orang yang sedang dirawat di RSUD Koja, Jakarta utara karena mengalami dehidrasi sedang, muntah dan hamil tua.

Salah seorang eks Gafatar yang berhasil diwawancari Warta Kota berinisial TT (38) asal Sidoarjo, Jawa Timur, menuturkan, sengaja ikut organisasi ini karena ingin mengubah nasib. Dia mengaku, selama ini pekerjaan suaminya sebagai pekerja serabutan tak mampu menutupi biaya hidup ia dan ketiga anaknya. "Suami saya gajinya kecil, hanya Rp 600.000 per bulan, makanya kami ingin mengubah nasib ke organisasi ini," kata perempuan bertubuh kurus itu.

Saking ingin mengubah nasib, TT yang tengah hamil berusia delapan bulan ini rela mengikuti jejak suaminya. Bahkan saat berada di pengungsian di daerah Kalimantan, dia terpaksa melahirkan anak keempatnya. Sebab, waktu kelahirannya bertepatan dengan pendataan dari petugas Kemensos RI di sana. "Awalnya mau dipulangin pakai pesawat, karena hamil tua jadi tidak dibolehkan. Akhirnya diantar pulang naik kapal laut, tapi sampai anak saya lahir dulu di sana," ujarnya.

Senada diungkapkan, oleh AB (25) eks Gafatar asal Yogyakarta. Dia sengaja memboyong istrinya, MT (24) ke dalam kelompok tersebut karena ingin mengubah nasib. Dia yang selama ini sebagai penjual kembang api, mengaku pendapatannya kurang untuk menutupi kebutuhan hidupnya. "Makanya saya ikut kelompok ini, ingin mengubah nasib. Saya tidak dipaksa, tapi diajak teman untuk ikut ini," kata AB.

Dia menuturkan, selama bergabung dengan kelompok itu sejak Oktober 2015 lalu, ia dididik menjadi petani sayur mayur. Menurut dia, pekerjaannya sebagai petani di sana sangat menjanjikan dan memberikan dampak positif terhadap lingkungan. "Jadi petani biasa aja di sana, nggak ada yang aneh-aneh kok," singkatnya.

Halaman
12
Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help