Bom Sarinah

Shock Sesaat, Seperti Ini Efek Terorisme ke Bursa, yang Diprediksi hanya Tiga Hari

Efek yang terjadi hanya kepanikan sementara.

Shock Sesaat, Seperti Ini Efek Terorisme ke Bursa, yang Diprediksi hanya Tiga Hari
Twitter/Veri Sanovri
Salah satu pelaku, wajahnya sangat terlihat jelas, muda dan nekad untuk melakukan terorisme keji. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Pasar finansial bergerak ke dua arah akibat sentimen berbeda, pasca teror bom.

Sempat anjlok 1,75% pada sesi perdagangan pagi kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terdorong pemangkasan suku bunga acuan alias BI rate.

Pada penutupan kemarin, IHSG ditutup melemah cuma 0,53% ke 4.513,18 Satrio Utomo, Kepala Riset Universal Broker Indonesia, menilai, bom di Jalan MH Thamrin, Jakarta tak banyak mempengaruhi pasar modal.

Efek yang terjadi hanya kepanikan sementara.

"Pemerintah juga bisa menangani dalam waktu singkat, jadi teror itu tak banyak pengaruh ke pasar modal," ujarnya ke Kontan, Kamis (14/1/2016).

Menurut dia, penurunan pasar saham sebenarnya lebih disebabkan kondisi regional. Teror hanya menekan IHSG pada perdagangan sesi I, di sesi II kinerjanya mulai membaik, bahkan sebelum ada pengumuman penurunan BI rate.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri menambahkan, insiden bom tak membuat pemodal asing kehilangan kepercayaan terhadap Indonesia. Merujuk histori, setelah terjadi teror WTC di Amerika Serikat, investor cenderung lebih hati-hati mengambil keputusan.

"Semakin lama, bom cuma bikin shock sedikit, tapi dampaknya tak besar," ujarnya.

Gina Nasution, analis Trimegah Securities, mengungkapkan, indeks sudah kebal terhadap sentimen teror. Lain halnya pada aksi pengeboman tahun 2000 di lapangan parkir Bursa Efek Jakarta (BEJ), bursa langsung turun drastis dan cenderung membaik setelah tujuh hari.

Sedang setelah aksi Bom Bali 1, 2 dan Hotel JW Marriot, indeks turun jangka pendek. Bila dirata-ratakan dampak aksi pengeboman itu berlangsung tiga hari. "Bahkan saat pengeboman tahun 2005, bursa tidak terpengaruh sama sekali," paparnya.

Trian Fathria, Research and Analyst Divisi Tresuri Bank BNI memaparkan, saat kejadian pengeboman di Thamrin berlangsung, rupiah sempat tergerus hampir mendekati Rp 14.000. Tapi, Bank Indonesia segera melakukan intervensi sehingga meminimalisir tekanan ke rupiah. (Andy Dwijayanto, Maggie Quesada Sukiwan, Rinaldi Mohamad Azka)

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved