Kuota SNMPTN Dikurangi Jadi 40 Persen dari Daya Tampung

Ada perbedaan antara peluncuran seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) tahun ini dengan tahun 2015.

Kuota SNMPTN Dikurangi Jadi 40 Persen dari Daya Tampung
Agustin Setyo Wardani
Peluncuran SNMPTN dan SBMPTN oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir (kiri), Ketua Umum Panitia Seleksi Masuk PTN Rochmat Wahab, Direktur Enterprise dan Business Service PT Telkom Muhammad Awaluddin, dan Ketua Majelis Rektor PTN Herry Suhardiyanto di Gedung Dikti, Senayan, Jumat (15/1/2016). 

WARTA KOTA, SENAYAN - Ada perbedaan antara peluncuran seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) tahun ini dengan tahun 2015.

Tahun ini, kuota untuk calon mahasiswa yang diterima di PTN dari jalur SNMPTN atau seleksi berdasarkan hasil prestasi akademik berkurang 10 persen dari total daya tampung di PTN.

Ketua Umum Panitia Seleksi Masuk PTN Rochmat Wahab mengatakan, tahun ini kuota untuk SNMPTN sebesar 40 persen dari total daya tampung.

"Hal ini diatur berdasarkan pasal 5 Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi no 45 tahun 2015. Bahwa alokasi daya tampung pada setiap program studi untuk SNMPTN minimum 40 persen," katanya saat meluncurkan SNMPTN dan SBMPTN di Gedung Dikti Senayan, Jumat (15/1).

Sementara, kuota untuk Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), kata Rochmat, minimum 30 persen dari daya tampung.

Sedangkan untuk kuota dari Seleksi Mandiri ditambahkan dari 20 persen menjadi maksimum 30 persen.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir mengatakan, pengurangan kuota untuk SNMPTN dari 50 persen menjadi 40 persen itu disebabkan karena penggunaan indeks integritas sebagai salah satu variabel.

"Karena belum semua sekolah menunjukkan indeks integritas yang maksimal, sehingga kalau ditetapkan kuota 50 persen nanti tidak akan ada keseimbangan. Karenanya 10 persen itu ditambahkan untuk jalur mandiri," jelasnya.

Sementara, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN) Herry Suhardiyanto mengungkapkan, faktor lain yang menyebabkan dikuranginya proporsi kuota untuk SNMPTN karena meningkatnya sekolah yang mengkatrol nilai siswanya.

"Nilai rapor siswa ini kan digunakan untuk SNMPTN, kami melihat ada kecenderungan nilai rapor siswa dikartrol sehingga antara nilai di rapor dengan kemampuan siswanya tidak sesuai," jelasnya.

Selanjutnya, kata Herry, pihak kampus ketika mengkorelasikan nilai rapor dengan IPK alumni sekolah tersebut, ternyata IPK-nya jeblok. Karenanya, hal ini jadi salah satu yang membuat pihaknya mengurangi proporsi kuota untuk SNMPTN. (Agustin Setyo Wardani)

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help