Penyelesaian Kasus Pembocoran UN jadi Catatan Akhir Tahun FSGI

Salah satu catatan dari FSGI adalah masalah kebocoran soal UN SMA 2015 yang diunggah di Google Drive.

Penyelesaian Kasus Pembocoran UN jadi Catatan Akhir Tahun FSGI
Kompas.com
Siswa mengikuti ujian nasional. 

WARTA KOTA, MENTENG-Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) merilis catatan akhir tahun 2015 tentang pendidikan di Gedung LBH Jakarta, Menteng, Minggu (3/1/2016).

Salah satu catatan dari FSGI adalah masalah kebocoran soal UN SMA 2015 yang diunggah di Google Drive. FSGI mengganggap, hingga kini, persoalan yang menurut pihak Kemendikbud sudah diproses oleh Kepolisan tersebut belum ada tindak lanjutnya.

"Progress penyelesaiannya belum diumumkan kepada publik. Pembocoran rahasia negara ini sanksi hukumnya sangat jelas dan terukur, Mendikbud harus memerintahkan pengusutan tuntas dan hasil pengusutan dibuka ke publik," kata Itje Chodidjah, anggota Dewan Pertimbangan FSGI dalam pernyataannya.

Itje mengatakan, jika permasalahan pembocoran tersebut tidak dituntaskan, maka hal tersebut bisa menjadi preseden buruk. "Para pembocor UN tidak akan mendapatkan efek jera," ucapnya.
Meski begitu, FSGI memberikan apresiasi terkait dihapusnya UN sebagai penentu kelulusan. Namun FSGI mengkritisi karena UN tetap dijadikan sebagai salah satu pertimbangan masuk ke jenjang yang lebih tinggi.

Menurut Itje, UN yang dimaksudkan oleh pemerintah hanya untuk memetakan kualitas pendidikan di Indonesia seharusnya tidak dijadikan sebagai salah satu pertimbangan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi (masuk PTN).

"Hal ini memperlihatkan, dampak perusakan mental belum bisa dihilangkan. Bagi anak-anak yang lulus dan ingin masuk PTN, memperoleh angka yang tinggi akan jadi target utama. Jadi UN bukan untuk menentukan kualitas trtapi anak nantinya akan kejar-kejaran di angka," katanya.

Karenanya, pihaknya menyayangkan jika yang akan terjadi adalah anak hanya berupaya memperoleh nilai yang baik tetapi caranya dengan kecurangan.

"Selain itu, pelaksanaan UN yang direncanakan diselenggarakan 3 kali di tahun 2016 juga terkesan menghamburkan anggaran. Terutama bagi siswa yang sudah masuk SMA, dan nilai UN SMPnya masih kurang memuaskan, UN hanya untuk mencari angka," katanya.

Adapun rencananya tahun ini Kemendikbud akan menyelenggarakan 3 kali UN, yakni pada Februari 2016 untuk UN ulangan bagi siswa yang tidak memenuhi ketuntasan. Kemudian April, untuk mereka yang saat ini menjalankan sekolah, dan pada bulan September untuk siswa yang mengulang UN di bulan April.

"Pemerintah harus mengkaji ulang hal ini," papar Itje.(Agustin Setyo Wardani)

Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved