Percaya Atau Tidak, Renminbi Akan Mendunia

Sejarah penggusuran mata uang kuat dunia sudah terjadi dan akan terus terjadi. Kini giliran renminbi (RMB) yang akan menggusur.

Percaya Atau Tidak, Renminbi Akan Mendunia
Kompas/Getty Images/ChinaFotoPress
Seorang staf kantor cabang Industrial and Commercial Bank of China Limited (ICBC) di Huabei, Provinsi Anhui, Tiongkok, menghitung uang dolar AS dan renminbi Tiongkok, beberapa waktu lalu. 

Oleh Simon Saragih

Sejarah penggusuran mata uang kuat dunia sudah terjadi dan akan terus terjadi. Kini giliran renminbi (RMB) yang akan menggusur. Untungnya, sepak terjang RMB akan punya efek besar ke Asia, tempat kita berada. Pemudaran kejayaan ekonomi Barat, yang sudah 100 tahun terjadi, semakin nyata.

Kekuatan ekonomi juga semakin nyata bergeser ke Asia. Perjalanan RMB menyimbolkan itu. Lalu, "Mata uang kuat mana yang akan tergusur akibat kebangkitan RMB?" Demikian sebuah artikel di situs CNBC edisi 2 Desember.

Artikel ini merujuk fakta masa lalu, ketika kejayaan dan pemudaran sebuah mata uang telah terjadi. Kini mata uang Tiongkok, renminbi, telah resmi masuk ke dalam keranjang mata uang (currencybasket) Dana Moneter Internasional (IMF). Renminbi bergabung dengan dolar AS, euro, yen Jepang, dan poundsterling Inggris. Keputusan soal itu dilakukan (IMF) dalam pertemuan 30 November lalu di Washington DC, Amerika Serikat.

RMB akan menjadi mata uang yang dipakai IMF mulai 1 Oktober 2016 untuk kegiatan operasional, yang disebut special drawing rights (SDR). Ini termasuk saat IMF memberi dana talangan bagi negara yang membutuhkan dana darurat, seperti pernah dialami Indonesia setelah krisis besar 1997 lalu.

"Masuknya yuan akan membuat komposisi SDR semakin menarik," demikian kata Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde, menyebut RMB dengan yuan, satuan RMB. Ucapan "menarik" Lagarde yang justru menarik. Lagarde mungkin tidak mau mengumbar pamor RMB mengingat AS sebenarnya sangat tidak suka RMB masuk dalam daftar SDR.

Akan tetapi, pamor yen, poundsterling, euro, bahkan dolar AS makin melemah. Negara-negara pemilik mata uang uang ini selama sekian lama ekonominya bertumbuh rendah. Negara-negara pemilik uang ini juga menjadi lokasi penipuan sektor keuangan, yang terus dilakukan bertahun-tahun dan tampaknya belum terkikis habis. Ada penipuan kurs valuta asing, penipuan suku bunga perbankan di London (Libor), hingga penipuan harga-harga saham lewat yang dinamakan high speed frequency trading.

Tiongkok, pemilik RMB, malah memiliki fondasi ekonomi yang jauh lebih sehat walau memiliki permasalahan besar, seperti korupsi pemerintahan dan lainnya. Di samping itu, pamor RMB dalam 10 tahun terakhir terus melejit.

Tiongkok pun kini menjadi eksportir terbesar di dunia menurut data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di tahun 2014. AS ada di urutan kedua.

Paul Donovan, ekonom dari UBS Investment Bank, pada 22 Oktober lalu mengatakan, 70 persen bank sentral di dunia sudah menjadikan RMB sebagai bagian dari komposisi cadangan devisa, yang kini secara global setara kurang lebih 11,46 triliun dolar AS.

Halaman
123
Editor: Andy Pribadi
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved