Penutupan Akses Jalan Warga oleh Pengembang Dilimpahkan ke Polres Depok

Suharyanto, pemilik lahan seluas 1.200 meter persegi di kawasan yang dipagar tembok beton oleh PT Megapolitan, telah melaporkan dugaan pengrusakan.

Penutupan Akses Jalan Warga oleh Pengembang Dilimpahkan ke Polres Depok
Budi Sam Law Malau
Tembok beton yang menutup Jalan Pinang Dua Ujung, di Kampung Kramat, Limo, Depok. Akibat hal ini puluhan warga di kampung itu terisolasi, sejak sebulan lalu. 

WARTA KOTA, DEPOK -- Kasus dugaan pengrusakan pagar berupa tanaman hidup oleh perusahaan properti PT Megapolitan Developments dengan membangun tembok beton dan menutup akses jalan warga Kampung Kramat, tepatnya di Jalan Pinang Dua Ujung, RT 1/5, Kelurahan Limo, Kecamatan Limo, Depok, kini, sudah dilimpahkan dari Polda Metro Jaya ke Polresta Depok.

Sebelumnya, 14 September lalu, Suharyanto, pemilik lahan seluas 1.200 meter persegi di kawasan yang dipagar tembok beton oleh PT Megapolitan, telah melaporkan dugaan pengrusakan yang dilakukan perusahan properti itu ke Polda Metro Jaya.

"Sekarang, kasusnya sudah dilimpahkan ke Polresta Depok," kata Suharyanto.

Dengan begitu, kata dia, saat ini, ada dua laporan terkait kasus dugaan pengrusakan yang dilakukan orang suruhan PT Megapolitan, kini, ditangani Polresta Depok.

Sebelumnya, Juni 2015, Bambang Hariyanto (59), warga Kampung Kramat, Limo juga melaporkan orang suruhan PT Megapolitan Developments karena merusak bangunan rumah yang sedang dikerjakannya.

Bambang mengaku, sampai saat ini, belum tahu perkembangan kasus yang dilaporkannya, sampai akhirnya PT Megapolitan menutup Jalan Pinang Dua Ujung dengan membangun tembok beton pada 10 September 2015 di sana, yang mengakibatkan warga terisolasi.

"Karena dipagar tembok beton, pembangunan rumah saya di sana terkendala. Sebab, material sulit masuk, apalagi pasir," kata Bambang.

Akibat penutupan akses jalan itu, sekitar 40 warga dari 11 kepala keluarga yang berada di Kampung Kramat, RT 1/5, Kelurahan Limo, Kecamatan Limo, Depok terisolasi, sejak 10 September 2015.

Mereka sangat kesulitan untuk beraktifitas sehari-hari karena jalan untuk keluar masuk permukiman ditutup tembok beton setinggi 2,5 meter sepanjang 50 meter.

Warga sempat melubangi tembok selebar 3 meter untuk akses jalan, namun ditutup kembali oleh PT Megapolitan. Bukan hanya itu, PT Megapolitan menurunkan 30 pemuda dari ormas tertentu setiap harinya untuk menjaga pagar tembok beton itu.

Selain itu, PT Megapolitan juga membuat pos jaga tepat di depan tembok dimana sebelumnya jalan akses masuk berada.

Namun, oleh karena sangat membutuhkan akses jalan, warga sempat kembali membuat lubang di tembok selebar 1 meter untuk sekadar akses keluar masuk sementara.

Namun, lagi-lagi lubang itu ditutup PT Megapolitan Developments.

Akibatnya, untuk keluar masuk permukiman, warga harus memutar melalui ujung tembok bagian selatan di dekat rawa yang jalannya menurun dan berbatu.

Seperti diketahuii, Pembangunan tembok beton hingga menutup Jalan Pinang Dua Ujung oleh PT Megapolitan Developments, adalah upaya perusahaan properti itu dalam mengklaim bahwa tanah 10 hektar di sekitar kawasan itu adalah milik mereka, sesuai surat pelepasan hak (SPH) tahun 1984.

Sementara, 30 warga yang mengaku sebagai pemilik sah lahan 10 hektar yang diklaim PT Megapolitan tersebut.

Dasar kepemilikan mereka dinilai warga jauh lebih kuat karena berupa sertifikat hak milik (SHM), akte jual beli (AJB) serta girik letter C.

Syamsudin, (70) pemilik salah satu lahan yang diklaim PT Megapolitan mengatakan pengakuan sepihak perusahaan properti itu sangat mengada-ada.

Sebab kata dia lahan miliknya di sana seluas 3050 meter persegi, sangat jelas berdasarkan Sertifikat Hak Milik (SHM) yang dikeluarkan BPN.

"Bagaimana mungkin itu lahan mereka hanya berdasar SPH. Sebab dasar kepemilikan saya jauh lebih kuat yakni berdasar sertifikat hak milik," kata Syamsudin.

Pantauan Warta Kota, di lokasi pemukiman warga yang terisolir, tembok beton berada tepat di depan jalan masuk pemukiman warga yakni di Jalan Pinang Dua Ujung. Tembok beton setinggi sekitar 2,5 meter sepanjang 50 meter.

Selain itu di sekitar pagar beton ada juga pos keamanan dan plang bertuliskan bahwa lahan milik PT Megapolitan Developments.

Beberapa pemuda dengan baju bersimbol ormas tertentu terlihat berjaga-jaga di sekitar lahan dan tembok beton yang dibangun PT Megapolitan Developments.

Mereka tampaknya diminta oleh PT Megapolitan Developments untuk menjaga tembok pagar beton agar tidak dijebol warga lebih jauh.

Untuk warga yang melintas terpaksa berjalan memutar ke tembok paling selatan dan di dekat rawa, dengan jalan berbatu yang tak rata.

Sementara itu, Direktur Operasional PT Megapolitan Developments, Abraham S Budiman saat dikonfirmasi mengenai hal ini mengatakan pihaknya akan menjelaskan setelah tim humas dan tim legal perusahaan menyiapkan semua berkas yang menunjukkan bahwa pihaknya pemilik hak atas lahan 10 hektar di sana.

"Mengenai pertanyaan anda, nanti akan diberikan jawaban oleh humas dan tim legal kami yang akan menghubungi anda," kata Abraham, kepada Warta Kota, beberapa waktu lalu.

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved