Pria Ngamuk, Saat Upacara Sumpah Pemuda di Balai Kota Depok

Pria ngamuk buyarkan upacara peringatan Sumpah Pemuda di Depok.

Pria Ngamuk, Saat Upacara Sumpah Pemuda di Balai Kota Depok
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Rauf Furahim (40), warga Depok Timur, Depok, mantan pedagang Soto di Terminal Depok yang mengamuk, saat Upacara Sumpah Pemuda di Balaikota Depok, Rabu (28/10/2015). 

WARTA KOTA, DEPOK -- Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda yang digelar di halaman Balai Kota Depok dan diikuti ratusan PNS di lingkungan Pemkot Depok, Rabu (28/10/2015) pagi, yang awalnya khidmat, tiba-tiba menjadi riuh.

Setelah pengibaran bendera merah putih, seorang pria berbaju merah dan bertopi merah tiba-tiba berteriak dari belakang barisan peserta upacara.

Ia berhasil masuk ke halaman Balai Kota Depok melalui pintu gerbang sebelah  kanan yang semestinya menjadi pintu keluar kendaraan.

Pria itu langsung memanggil-manggil nama Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail yang saat itu menjadi pemimpin upacara.

"Mana Nur Mahmudi? Mana dia? Saya mau ketemu Nur Mahmudi dan minta dia tanggung jawab atas hidup saya dan keluarga saya," kata pria yang diketahui bernama Rauf Furahim (40), warga Depok Timur, Depok.

Dengan memaki dan berteriak-teriak, Rauf juga datang sambil membawa satu selebaran kertas di tangannya.

Isi selebaran adalah tuntutan yang harus dipenuhi Nur Mahmudi karena dianggapnya sudah membuat dirinya menderita.

"Karena Nur Mahmudi, hidup saya jadi sengsara dan banyak utang. Saya minta tanggung jawab," teriak Rauf.

Karena aksinya sejumlah petugas Satpol PP langsung mengamankan Rauf dan membawanya ke dalam pos Satpol PP dan menjauh dari halaman upacara digelar.

Rauf diketahui adalah mantan pedagang soto di area Terminal Kota Depok, yang ikut digusur bersama ratusan PKL lainnya pada Oktober 2014 tahun lalu.

Karena penggusuran itu, Rauf mengaku hidusp sengsara sehingga ia dan dua anaknya terlantar. Bahka Rauf mengaku terlilit hutang.

Dalam selebaran yang dibawanya Rauf menuliskan 'Nur Mahmudi membuat hidup saya jadi sengsara dan banyak hutang. Saya minta tanggung jawab atas biaya hidup, biaya sekolah anak-anak saya hingga sarjana. Jika tidak akan saya tuntut sampai akhirat.'

Di dalam pos Satpol PP, Rauf masih saja terus berteriak saat diamankan. Bahkan ia sampai meneteskan air mata dan menangis.

"Nur Mahmudi harus tanggung jawab. Tolong sampaikan ke dia. Karena dia saya gak bisa jualan di Terminal Depok lagi, sehingga saya menderita dan anak-anak say terlantar," katanya.

Sambil terisak-isak, Rauf mengaku sudah setahun ini hidupnya terlunta-lunta. Bahkan menurut Rauf, dia sudah sering mengadukan kesedihannya ke DPRD Kota Depok.

"Tapi tetap saja begini. Bapak gak merasakan apa yang saya rasakan. Kalau bapak merasakan pasti akan paham apa maksud saya," kata Rauf kepada petugas Satpol PP yang mengamankannya.

Menurut Rauf, yang dilakukan Pemkot Depok dengan membongkar pedagang di dalam terminal Depok adalah hal yang tidak berpihak pada rakyat.

"Karena itu saya bingung, bagaimana harus menghidupi anak dan istri saya. Bahkan istri saya harus jadi pembantu untuk biaya hidup sehari-hari, namun tetap kami terlantar dan anak-anak kesulitan biaya sekolah," kata Rauf.

Beberapa lama setelah berhasil ditenangkan dan upacara Sumpah Pemuda selesai, Rauf diperbolehkan meninggalkan gedung Balaikota Depok oleh petugas keamanan.

Aksi Rauf ini secara umum tidak membuat upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Balaikota Depok terganggu. Upacara tetap berlangsung dengan baik hingga selesai.

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved