Psikologi

Awas, Perasaan Sendirian Bisa Picu Gangguan Kejiwaan

Psikolog Probowatie Tjondronegoro mengatakan salah satu pemicu gangguan kejiwaan adalah perasaan sendirian dalam menghadapi problematika kehidupan.

Awas, Perasaan Sendirian Bisa Picu Gangguan Kejiwaan
dok. google
Ilustrasi kesepian 

WARTA KOTA, SEMARANG - Psikolog Probowatie Tjondronegoro mengatakan salah satu pemicu gangguan kejiwaan adalah perasaan sendirian dalam menghadapi problematika kehidupan.

"Berbagai masalah ini menyebabkan jiwa rapuh dan merasa sendiri dalam menghadapi problematika kehidupan," kata Probowatie Tjondronegoro di Semarang, Sabtu (10/10/2015), merefleksikan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia.

Apalagi, kata Probowatie Tjondronegoro, pribadi seseorang yang cenderung tertutup dan individual membuat makin merasa sendirian dan merasa tidak ada orang lain untuk diajak berbagi menghadapi permasalahan.

Kepala Humas Rumah Sakit (RS) St. Elisabeth Semarang itu mengingatkan pola komunikasi dalam keluarga menjadi kuncinya sehingga kehangatan dalam keluarga menjadi penting dan tidak boleh terabaikan.

"Keluarga bisa mengasah kepekaaan jika ada anggota keluarga yang mulai menunjukkan gejala-gejala, seperti susah tidur, enggan berkumpul, mudah tersinggung, dan terkesan menjauhkan diri," kata Probowatie Tjondronegoro.

Menurut Probowatie Tjondronegoro, gejala-gejala stres semacam itu harus dikenali untuk segera dilakukan penanganan, melalui dengan mengajak yang bersangkutan untuk berkomunikasi agar tidak merasa sendirian.

"Di tengah kesibukan orang tua dalam bekerja dan tugas anak-anak untuk bersekolah, sebaiknya tetap luangkan waktu untuk berinteraksi dalam keluarga agar tercipta kehangatan dan kasih sayang," kata Probowatie Tjondronegoro.

Untuk gangguan kejiwaan yang bersifat ringan, menurut Probowatie, sebenarnya bisa diatasi untuk mencegah menjadi gejala berat, seperti depresi yang memang harus dirujuk ke RS jiwa.

Upaya pencegahan

Kepala Bidang Pelayanan dan Kesehatan Dinas Kesehatan Jawa Tengah Djoko Mardiyanto memandang perlu kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga menangani permasalahan kesehatan jiwa.

"Upaya pencegahan bagaimanapun selalu lebih baik, yakni dimulai dari keluarga sebagai unit atau entitas terkecil agar gejala-gejala gangguan jiwa yang muncul tidak berlanjut gejala berat," kata Djoko Mardiyanto.

Stres, kata Djoko Mardiyanto, merupakan salah satu penyebab gangguan jiwa meski pada kadar tertentu bisa dikendalikan secara baik, salah satunya dengan rasa kebersamaan dan kehangatan dalam keluarga.

"Sejak anak-anak, sebenarnya perlu diajari cara mengatasi stres. Tujuannya agar ketika dewasa kelak bisa mengelola stres dengan baik. Jangan kemudian mengambil alih kesulitan anak," kata Djoko Mardiyanto. (Antara)

Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help