Rupiah Anjlok, Pengrajin Tahu Tempe Semanan Kelimpungan

Para pengrajin tahu dan tempe di Komplek Kopti, Semanan, Kalideres, Jakarta Barat kelimpungan karena anjloknya rupiah berpengaruh pada impor kedelai.

Rupiah Anjlok, Pengrajin Tahu Tempe Semanan Kelimpungan
Warta Kota/Andika Panduwinata
Pengrajin tempe tahu di Komplek Kopti, Semanan, Kalideres, Jakarta Barat kelimpungan. Mereka bingung lantaran harga bahan baku pembuatan tahu dan tempe yakni kedelai harganya semakin tinggi.

WARTA KOTA, KALIDERES-Para pengrajin tahu dan tempe di Komplek Kopti, Semanan, Kalideres, Jakarta Barat kelimpungan. Mereka bingung lantaran harga bahan baku pembuatan tahu dan tempe yakni kedelai harganya semakin tinggi.

Kenaikan harga kedelai impor ini melejit karena nilai tukar rupiah yang sedang melemah. Saat ini 1 dollar AS pun tembus di angka Rp. 14.000.

"Kami para pengrajin tahu dan tempe di sini selalu pakai kedelai impor, bingung karena harga kedelai semakin mahal," ujar Dayat (58) satu dari pengrajin tahu di Komplek Kopti saat ditemui Warta Kota di tempat usahanya pada Selasa (25/8/2015).

Dayat menjelaskan untuk saat ini harga kedelai impor mencapai Rp. 750.000 per kwintalnya. Dari bulan kemarin harga kedelai pun tak kunjung turun dan perlahan merangkak naik.

"Dari harga Rp. 600.000, Rp. 640.000, Rp.680.000 dan sekarang Rp. 750.000 harga kedelai per kwintalnya," ucapnya.

Ia memerlukan 3 kwintal kedelai impor dalam sehari produksi tahu kuning usaha miliknya itu. Dayat memasarkan dagangannya tersebut di sekitar kawasan Jakarta dan Tangerang.

"Untuk antisipasi kenaikan harga kedelai ya paling saya memperkecil ukuran tahu, tapi harganya sama. Cuma memperkecil sedikit aja. Habisnya bingung harus gimana lagi," ungkap Dayat.

Dayat pun enggan beralih ke kedelai lokal walau pun harga kedelai impor yang tak kunjung turun. Menurutnya kualitas kedelai lokal sangat buruk apabila digunakan untuk produksi tahunya.

Hal yang sama terjadi pada Solihin (46) satu dari perajin tempe di Komplek Kopti. Pria berusia 46 tahun ini pun khawatir usahanya akan bangkrut kalau terus - terusnya seperti ini.

"Saya dalam sehari memerlukan 1 kwintal untuk produksi tempe. Kalau harga kedelai impor terus - terusan naik ya bisa bangkrut juga," kata Solihin.

Solihin memasarkan tempenya ini ke wilayah Kalideres, Cengkareng, Kembangan, dan Kebon Jeruk. Kendati demikian dirinya tak mengurangi ukuran tempe dalam produksinya walau pun harga kedelai tinggi.

Ia juga tak menaikan harga tempe yang dijualnya kepada para pelanggannya. "Harga dan ukuran tempe masih biasa belum berubah. Ini juga selalu tekor buat nutupin produksinya, soalnya penghasilannya segitu - gitu aja, tapi bahan bakunya semakin naik," pungkas Solihin. (Andika Panduwinata)

Tags
tempe
tahu
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved