Kepala OP Tanjung Priok Jelaskan Salah kaprah Dwelling Time

Pasalnya, beberapa orang mengartikan Dwelling Time adalah kegiatan bongkar muat.

Kepala OP Tanjung Priok Jelaskan Salah kaprah Dwelling Time
Kontan.co.id
Peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok. 

WARTA KOTA, TANJUNG PRIOK -- Kepala Otoritas Pelabuhan (OP) Tanjung Priok, Bay M Hasani menjelaskan terkait apa arti 'Dwelling Time'.

Pasalnya, beberapa orang mengartikan Dwelling Time adalah kegiatan bongkar muat.

"Dwelling Time itu artinya 'Berapa lama barang itu menginap atau mengendap di Terminal Pelabuhan' bukan bongkar muat. Mulai dari barang itu dibongkar sampai keluar (get out) di terminal pelabuhan," katanya di Terminal Nusantara Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (24/08/2015).

Menurut Bay, ada beberapa pengertian atau. teminologi dan metodelogi perhitungan dwelling time.

Pengertian itu disebutkan dalam  world bank, kepabeanan, kepelabuhanan dan minilab.

"Pengertian dan metodologi perhitungan Dwelling Time antara lain yakni World Bank. World Bank yakni waktu yang dihabiskan oleh barang muatan atau kargo di dalam batas pelabuhan. Dari saat kargo dibongkar dari kapal dan disimpan di darat, hingga saat kargo itu meninggalkan pelabuhan melalui rel kereta maupun jalan darat," katanya.

Sementara, Dwelling Time dalam kategori Kepelabuhanan yakni jumlah hari rata-rata barang yang ditumpuk selama satu bulan.

Sedangkan kepabeanan yakni waktu berapa lama petikemas (barang impor) ditimbun di Tempat Penimbunan Sementara (TPS), di pelabuhan sejak dibongkar dari kapal sampai dengan barang impor keluar dari TPS.

"Kalau Minilab yakni waktu yang ditempuh oleh container atau barang untuk melalui proses kepelabunan, mulai dari proses discharge atau bongkar barang sampai dengan keluar terminal pelabuhan," terangnya.

Dari beberapa pengertian dan metodologi perhitungan dwelling time tersebut, kata Bay, yang saat ini dipermasalahkan adalah pengertian dan metodologi dwelling time versi kepabeanan.

"Karena ada keterkaitan, antara flow of good dan flow of document yang perhitungan dwelling timenya merupakan penjumlahan dari 3 (tiga) tahap clearence (pre customs clearance, customs clearance dan post customs clearance)," ungkapnya.

Dari ke 3 (tiga) tahapan clearance tersebut, lanjut Bay, dapat diidentifikasi pada tahapan mana sebagai penyumbang terbesar yang menyebabkan dwelling time menjadi tinggi.

"Dari ke 3 (tiga) tahapan itu, porsi terbesar penyumbang tingginya dwelling time adalah pada tahapan pre customs clearance, yakni sekitar 60 persen sampai dengan 70 persen dari nilai (total) dwelling time," terangnya.

Ia pun memberikan contoh yakni pada Bulan Juni 2015 Total Dwelling Time yakni 5, 56 hari, Pre Customs Clearance: 3,32 hari atau sekitar 59,7 persen, Cutoms Clearance 0,67 hari atau 12,1 persen, dan Post Customs Clearance 1,57 hari atau 28,2 persen.

"Contoh lainnya, yakni bulan Juli 2015, Total Dwelling time terhitung ada 5,65 hari, Pre Customs Clearance 3,74 hari atau 66,20 persen, Customs Clearance 0,69 hari atau 12,21 persen, Post Customs Clearance 1,22 Hari atau 21,59 persen," tutupnya. (Panji Baskhara Ramadhan)

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved