Breaking News: Dollar Tembus Rp 14.000, Pedagang Tasik Menjerit

Rupiah yang loyo dan nilainya terus merosot mengakibatkan banyak pedagang menjerit, pedagang Tasik, misalnya.

Breaking News: Dollar Tembus Rp 14.000, Pedagang Tasik Menjerit
Warta Kota/Dwi Rizki
Ilustrasi. PKL Pasar Tasik yang menguasai jalan. 

WARTA KOTA, SENEN -- Penguatan nilai tukar Dollar Amerika terhadap Rupiah hingga senilai Rp 14.000 per USD pada Senin (24/8) tidak hanya berpengaruh pada pengusaha kalangan atas saja, para pedagang Pasar Tasik pun mengaku terancam merugi jika nilai tukar rupiah kian melemah.

Kekhawatiran tersebut seperti halnya yang diakui oleh Saiful (45) pedagang Pasar Tasik Eks Aneka Beton kepada Warta Kota, Senin (24/8/2015).

Dikatakannya, pelemahan nilai tukar rupiah tersebut secara langsung berpengaruh pada harga jual seluruh bahan kain impor yang digunakan produsen. Dengan kata lain, lanjutnya, ongkos produksi pun akan meningkat, sementara daya beli masyarakat kian menurun.

"Kita takutnya kejadian krisis moneter kayak tahun 98 dulu, dollar sudah sampai Rp 14.000 sekarang, tinggal tunggu Rp 2.000 lagi bener kejadian. Kalau dibilang khawatir, kita pengusaha jelas khawatir, soalnya sebagian bahan (kain-red) kan kita masih impor, semuanya juga pakai dollar belinya, ya kalau dollar naik, otomatis harga belinya juga naik," jelasnya.

Selain Saiful, Anies (49) pedagang sekaligus produsen pakaian muslim asal Tasikmalaya, Jawa Barat pun mengeluhkan hal serupa. Akan tetapi, dirinya telah mengakali kenaikan nilai dollar tersebut dengan membeli stok bahan kain berlebih sejak sebulan lalu.

"Saya sudah prediksi kalau dollar bakal naik terus, makanya waktu dollar masih Rp 12.000 sebulan lalu, saya beli bahan banyak. Eh ternyata bener kejadian, sekarang dollar naik sampai Rp 14.000," ungkapnya.

Akan tetapi, stok bahan kain yang dibelinya diperkirakan hanya cukup hingga produksi baju muslim pekan kedua bulan September 2015 mendatang. Selanjutnya, apabila harga bahan kain tetap meningkat, terpaksa dirinya memberlakukan harga jual lebih mahal.

"Satu-satunya cara supaya bisa bertahan ya naikin harga, tapi risikonya bisa jadi nggak laku. Nah, pilihan lainnya kita pakai bahan lokal, tapi hasilnya nggak sebagus bahan impor, itu juga beresiko nggak laku. Makanya pusing juga kalau kondisinya kayak begini," tutupnya sembari berkemas

Beranjak dari Pasar Tasik, pemandangan ramai akan warga pun terlihat di salah satu pusat penukaran uang terbesar di Jakarta Pusat, PT Ayu Masagung, Kwitang, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (24/8). Berbeda dengan rasa pesimis para pedagang Tasik, para warga justru terlihat antusias akan kenaikan harga dollar saat ini.

Para warga terlihat berbondong-bondong menukarkan dollar untuk ditukarkan menjadi rupiah. Panjangnya antrean pada keempat teller yang diketahui terjadi sejak pagi hari pun terlihat tidak menyurutkan minat warga untuk menukarkan seluruh simpanan dollar yang dibawa.

Halaman
12
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help