Tips Kesehatan

Penciuman Sudah Tak Berfungsi, Berarti Kematian Sudah Dekat

Sebuah penelitian mengatakan orang yang memiliki masalah dengan indra penciuman mereka beresiko meninggal lebih cepat

Penciuman Sudah Tak Berfungsi, Berarti Kematian Sudah Dekat
shutterstock
Ilustrasi 

WARTA KOTA, PALMERAH - Sebuah studi yang dipublikasikan pada jurnal Annals of Neurology mengatakan, orang yang memiliki masalah dengan indra penciuman mereka beresiko meninggal lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak memiliki masalah penciuman.

Apakah kemampuan penciuman yang berkurang merupakan tanda kematian dini?

Para peneliti menganalisis informasi dari 1.100 orang dewasa di New York yang rata-rata usianya 80 tahun.

Para partisipan mengikuti tes “mengendus” di mana mereka diminta untuk mengidentifikasi 40 aroma yang biasa kita cium.

Partisipan yang bisa mengidentifikasi kurang dari 18 aroma dikatakan memiliki anosmia, atau ketidakmampuan untuk mencium bau.

Studi ini menemukan bahwa mereka yang memiliki skor rendah (0-20) saat mengidentifikasi cenderung empat kali meninggal lebih cepat dibanding partisipan yang memiliki skor tinggi (31-40 poin).

Sekitar 45% partisipan yang skornya rendah meninggal dalam kurun waktu penelitian, sedangkan 18% yang memiliki skor tinggi masih hidup hingga sekarang.

Untuk menemukan fakta tersebut, para peneliti bahkan sudah mengurangi faktor-faktor yang memepercepat kematian lainnya seperti usia, konsumsi alkohol, cedera kepala, merokok atau dementia.

“Resiko kematian meningkat secara progresif bagi mereka yang kemampuan penciumannya buruk,” kata wakil pemimpin penelitian dan profesor neurologis di Columbia University, Dr. Davangere Devanand.

Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dipublikasikan tahun lalu yang juga menemukan fakta bahwa kemampuan penciuman yang berkurang merupakan tanda kematian dini bagi orang-orang yang sudah tua.

Orang-orang cenderung memiliki penciuman yang lebih buruk seiring dengan bertambahnya usia meereka. Gangguan indra penciuman telah dikaitkan dengan dementia dan kondisi medis lainnya.

Para peneliti menekankan bahwa kehilangan penciuman dapat menempatkan seseorang pada situasi berbahaya seperti mengonsumsi makanan basi atau ketidakmampuan untuk mencium kebocoran gas atau kebakaran.

Kehilangan penciuman juga berarti sel dalam tubuh mereka tidak bisa regenerasi lagi seperti dahulu. Hal tersebut bisa meningkatkan resiko kematian pada orang tersebut.

Penelitian ini masih membutuhkan studi yang lebih besar untuk melihat faktor lain yang bisa menjelaskan hubungan kehilangan penciuman dan kematian dini.

Kerja yang lebih keras juga diperlukan untuk melihat apakah hasil studi ini juga berpengaruh pada populasi yang lebih muda. (livescience.com)

Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved