Mahalnya Menyelesaikan Keadilan

Alat kelamin WD harus divisum, karena untuk membuktikan bahwa siswi kelas VI SDN Margahayu ini mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh gurunya

Mahalnya Menyelesaikan Keadilan
Tribunnews.com
Ilustrasi 

WARTA KOTA, BEKASI - Hampir dua pekan DE (41), warga Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur ini kurang beristirahat.

Seluruh waktunya habis untuk mengurus proses hukum anak perempuannya WD (13).

Bahkan dia terpaksa meminjam uang tetangganya sebesar Rp 500.000 untuk biaya visum anaknya.

Alat kelamin WD harus divisum, karena untuk membuktikan bahwa siswi kelas VI SDN Margahayu ini mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh gurunya, Subrata (32) pada awal Juni lalu.

Bukan hanya pemeriksaan medis, DE juga harus membawa tujuh saksi yang mengetahui kasus pencabulan yang dilakukan oleh S ke Mapolresta Bekasi.

Proses ini, dianggap DE sangat berat. Sebab dia harus membiayai ongkos tujuh saksi ke Mapolresta Bekasi untuk menjalani pemeriksaan.

Dalam sehari, setidaknya dia harus mengeluarkan uang Rp 150.000. Uang sebanyak itu, dialokasikan untuk ongkos dan biaya makan para saksi.

Adapun saksi yang dia bawa adalah tetangganya dan teman korban. Apabila ditotal, biaya yang telah dia keluarkan mencapai Rp 3 juta.

"Itu pun uang Rp 3 juta saya pinjam dari tetangga di kontrakan. Kalau tidak begitu, bagaimana bisa proses pemeriksaan anak saya berjalan," ujar DE saat ditemui di rumahnya pada Rabu (1/7).

DE mengatakan, awalnya pemeriksaan kasus pencabulan anaknya berjalan lancar.

Halaman
1234
Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help