Properti

Nasib Properti Tahun ini Lebih Buruk daripada Tahun Lalu

Beberapa pengamat dan pengembang berani mengatakan nasib sektor properti tahun ini bakal lebih buruk

Nasib Properti Tahun ini Lebih Buruk daripada Tahun Lalu
shutterstock.com
Ilustrasi 

WARTA KOTA, PALMERAH - Bukan tanpa alasan, beberapa pengamat dan pengembang berani mengatakan nasib sektor properti tahun ini bakal lebih buruk ketimbang tahun 2013 dan 2014.

Basis penilaian mereka adalah anjloknya transaksi penjualan yang dipicu turunnya permintaan akibat daya beli yang tergerus.

Perlambatan ekonomi yang hanya berkisar 4-4,5 persen, depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang sempat menyentuh level Rp 13.400.

Kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak jelas serta aturan perpajakan yang membebani, dituding sebagai penyebab pasar properti semakin lesu.

Begawan properti Indonesia sekaligus pendiri imperium Ciputra Group, Ciputra mengatakan, meski tak seburuk kondisi tahun 1998, namun situasi sekarang harus disikapi dengan hati-hati.

"Properti sudah terkoreksi, perkantoran kelebihan pasokan (over supply). Kita harus berani melakukan inovasi-inovasi baru dan bila perlu lakukan efisiensi," tutur Ciputra kepada Kompas.com, usai acara CNBC Managing Asia, di Hotel Kempinski, Kamis (11/6/2015).

Menurut Ciputra, dengan melakukan inovasi dan terobosan baru, diharapkan rasionalisasi karyawan atau pun pemangkasan ongkos produksi (cutting cost) tidak terjadi.

Oleh karena itu, para pengembang harus jeli sekaligus mau kerja keras agar sektor ini tetap berjalan.

Pasalnya, "Koreksi akan terjadi hingga akhir tahun ini," tandas Ciputra.

Hal senada dikemukakan Country Head Knight Frank Indonesia, Wilson Kalip. Menurutnya, sektor properti bakal anjlok hingga 40 persen sampai Desember 2015. Sinyalemen ini sejatinya sudah terjadi sejak kuartal pertama 2015.

"Saat itu penurunan penjualan sudah terjadi sekitar 15 persen. Kita bisa lihat, kalau sektor otomotif saja merosot 20 persen, properti akan jatuh lebih dalam lagi. Saya perkirakan sekitar 40 persen," ujar Wilson.

Jika hal ini terus berlanjut tanpa ada langkah terobosan dari Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), potensi lebih buruk lagi akan terjadi.

Wilson kemudian mengungkapkan, turunnya penjualan ini akan berdampak pada 130 industri terkait seperti semen, keramik, baja, besi, cat, saniter, jasa broker, jasa konsultan, dan lain-lain.

"Kalau penjualan turun, pendapatan perusahaan pun turun. Lantas siapa yang mau membayar kontraktor dan pemasok material bangunan? Ini sangat tergantung pada Pak Presiden Jokowi. Properti sekarang sudah lampu kuning," cetus Wilson.

Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help