Beras Plastik

IPB: Beras Sintetis Berbahan Baku Singkong

IPB menjelaskan beras sintetis dalam dunia penelitian pangan dikenal sebagai beras yang berbahan singkong, tepung sagu, janggung

IPB: Beras Sintetis Berbahan Baku Singkong
instagram
Beras plastik yang dibeli oleh warga Bekasi di sebuah pasar tradisional pada 18 Mei 2015 lalu. 

WARTA KOTA, BOGOR - Pakar Institut Pertanian Bogor (IPB) menjelaskan beras sintetis
dalam dunia penelitian pangan dikenal sebagai beras yang berbahan baku singkong, tepung sagu, janggung, umbi-umbian, dan beberapa sumber karbohidrat lain.

Di IPB beras tersebut dikenal dengan sebutan beras analog. Beras diciptakan sebagai diversifikasi pangan bahan pangan untuk mengurangi ketergantungan konsumsi terhadap beras padi dan tepung terigu.

Hal itu diungkapkan Guru Besar Ilmu Pangan fakultas Teknologi Pertanian IPB, Fransiska Rungkat Zakaria, Rabu (20/5/2015).

Dia mengatakan, beras analog adalah salah satu bentuk pangan alternatif yang dikembangkan untuk mengatasi ketersediaan pangan, baik itu dalam hal penggunaan sumber pangan.

Jika dibandingkan dengan beras padi, sumber karbohidrat maupun gizi yang terkandung di dalam beras analog tidak jauh berbeda. Karbohidrat katanya, merupakan salah satu komponen makro pada produk pangan yang mengandung unsur C, H, dan O.

"Bahan baku dari beras analog ini, seperti singkong, ubi jalar, sagu, dan beberapa jenis umbi-umbian lainnya, memiliki kandungan indeks glikemik (potensi peningkatan gula darah/glukosa dari karbohidrat yang tersedia pada suatu pangan) yang umumnya lebih rendah dibandingkan beras padi," katanya.

Dengan mengkonsumsi beras analog,kata Fransiska, kadar gula para penderita diabetes melitus diharapkan lebih stabil dan terjaga karena pada umumnya beras analog terbuat dari bahan baku yang rendah kadar indeks glikemiknya.

Fransiska menambahkan, permasalahan harga jual masih menjadi kendala saat ini."Padahal beras analog diharapkan menjadi salah satu diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan angka impor beras dalam negeri," ujar Fransiska yang juga anggota Komisi I Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN)

Penulis: Soewidia Henaldi
Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved