Mahitala Unpar Siapkan Tim Wanita Indonesia Pertama di Tujuh Puncak Dunia

Kelompok Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Katolik Parahyangan Bandung mempersiapkan ekspedisi wanita Indonesia pertama di tujuh puncak dunia.

Mahitala Unpar Siapkan Tim Wanita Indonesia Pertama di Tujuh Puncak Dunia
ISSEMU
Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar di Puncak Vinson Massif (4.892m), Antartika. 

WARTA KOTA, PALMERAH-Kelompok Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Katolik Parahyangan Bandung (Mahitala Unpar) mempersiapkan tim pendaki gunung wanita untuk menggapai tujuh puncak tertinggi di tujuh benua. Tim yang diberi nama The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU) ini beranggotakan tiga mahasiswi aktif Unpar dan diproyeksikan menyelesaikan rangkaian pendakian selama dua tahun ke depan.

Ketua Dewan Pengurus Mahitala Unpar, Nadine Gabrielle, Minggu (3/5/2015) menjelaskan, eksedisi ini diharapkan dapat menginspirasi wanita Indonesia untuk menorehkan prestasi dengan tujuan mulia mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. WISSEMU juga menunjukan kepada publik bahwa olahraga outdoor di Indonesia yang lebih sering ditekuni laki-laki sebenarnya juga dapat dilakukan oleh wanita.

"Dari data statistik, sampai saat ini baru terdapat 348 Seven Summiteers di dunia, dan dari jumlah itu hanya 33 orang dari kalangan wanita (7summitss.com, red) tapi belum ada yang dari Indonesia. Kami berharap ekspedisi ini menjadi pencapaian penting bagi Indonesia," tutur Nadine.

Adapun tiga pendaki yang tergabung dalam WISSEMU adalah Fransiska Dimitri Inkiriwang (21), Mathilda Dwi Lestari (21), dan Dian Indah Carolina (19). Ketiganya adalah mahasiswa jurusan Hubungan Internasional FISIP Unpar.

Beragam persiapan telah dijalankan oleh tim, mulai dari bedah peta, penyusunan rencana perjalanan sampai latihan fisik dengan menu lari dan latihan beban yang dilakukan dua kali seminggu. Tim juga berlatih yoga setiap akhir minggu untuk mematangkan kesiapan moril. Dukungan dari seluruh anggota Mahitala dan manajemen Universitas Katolik Parahyangan semakin menguatkan mental tim.

“Semua telah dipersiapkan dengan matang dan kami berharap perjalanan ini dapat berjalan tanpa hambatan,” tutur Didi, sapaan akrab Fransiska Dimitri Inkiriwang selaku ketua tim.

“Ekspedisi ini tidak hanya mimpi kami bertiga, tetapi juga mimpi besar Mahitala yang kami harapkan juga dapat menjadi mimpi Indonesia,” tambahnya.

Anggota tim telah memulai rangkaian pendakian tujuh puncak dunia dengan menggapai puncak Carstensz Pyramid (4.848 mdpl), Papua pada 17 Agustus 2014 lalu. Saat itu tim bergabung bersama delapan anggota Mahitala lainnya dalam ekspedisi penggantian tali tetap yang sudah mulai rusak di kawasan puncak Carstensz Pyramid.

Pada 8-29 Mei 2015, tim akan melanjutkan ekspedisi menuju ke Rusia untuk mendaki Gunung Elbrus (5.642 mdpl) dan dilanjutkan mendaki Gunung Kilimanjaro, Tanzania (5.895 mdpl). Dengan target menyelesaikan ekspedisi pada Juni 2016, tim direncanakan mendaki secara berturut Gunung Vinson Massif, Antartika (4.892 mdpl), Gunung Aconcagua, Argentina (6.962 mdpl), dan Gunung Everest, Nepal (8.848 mdpl). Puncak Denali, Amerika Utara (6.194 mdpl) akan menjadi puncak pamungkas penutup rangkaian pendakian.

Di kalangan pendaki gunung dunia, The Seven Summits merupakan salah satu pencapaian prestisius atau semacam gran slam di dunia tenis. Indonesia sendiri sudah berhasil menempatkan sejumlah pendakinya di tujuh puncak dunia, termasuk empat pendaki Mahitala Unpar yang mencapainya pertama kali pada 2010-2012, yaitu Sofyan Arief Fesa (28), Xaverius Frans (24), Broery Andrew Sihombing (22), dan Janatan Ginting (22).

Eksepedisi ini mendapat dukungan penuh dari Universitas Katolik Parahyangan dan PT Multikarya Asia Pasifik Raya (MKAPR), perusahaan penyewaan dan penjualan peralatan pengeboran minyak dan gas bumi yang berkedudukan di Jakarta.

Penulis: Max Agung Pribadi
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved