Parah, 66 Persen Produsen Rokok Tutupi Gambar Peringatan

Pengurus harian YLKI, Tulus Abadi mengatakan, diduga kuat penutupan gambar ini adalah disengaja untuk mengaburkan peringatan dampak buruk merokok.

WARTA KOTA, TANAH ABANG - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melakukan pengamatan peringatan kesehatan bergambar di bungkus rokok di empat kota besar di Indonesia.

Hasilnya, sebanyak 66 persen merek rokok memasang gambar pictorial health warning (PHW) ditutupi pita cukai.

Pengurus harian YLKI, Tulus Abadi mengatakan, diduga kuat penutupan gambar ini adalah disengaja untuk mengaburkan peringatan dampak buruk merokok.

“Penutupan gambar dengan pita cukai ini melanggar PP 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau, yakni pasal 17 ayat 5, yang menyebutkan gambar peringatan tidak boleh tertutup oleh apapun,” ujarnya di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (28/4).

Tulus menjelaskan, survei ini mengambil sampel merek rokok ternama yang paling laris di pasaran.

Merek tersebut yakni Dji Sam Soe, A Mild, Marlboro (Produksi PT PMI), U Mild, Lucky Strike (PT BAT Bentoel), Gudang Garam International, Gudang Garam Merah (PT GG), LA Light, Djarum 76 (PT Djarum), dan empat merek lokal, yaitu Union, Minak Djinggo, Lodji, dan Tali Jagat.

Survei dilakukan pada Februari-Maret 2015 dengan pembelian di kios, minimarket, warung, dan pedagang asongan.

“Dari sisi perusahaan, PT PMI Dan PT BAT adalah yang paling banyak tidak mematuhi aturan, yakni 33 persen. Sedangkan PT GG dan PT Djarum memiliki tingkat kepatuhan 45 persen, justru rokok lokal yang memiliki kepatuhan 65 persen,” tuturnya.

Atas dasar survei ini, YLKI juga mendesak Kementerian Keuangan untuk menerbitkan pita cukai yang lebih ramping dan membuat ketentuan peletakkan pita cukai rokok agar tidak menutup gambar peringatan kesehatan.

Tulus juga mendesak pemerintah memberi sanksi kepada perusahaan rokok yang menutupi gambar peringatan kesehatan tersebut. (sab)

Penulis: Ahmad Sabran
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help