KPR Dimanfaatkan oleh 75 Persen Orang di Segmen Menengah Bawah

Pembeli rumah di segmen menengah bawah dan bawah merupakan pengguna KPR ‎paling banyak, yaitu sebesar 75 persen pengguna.

KPR Dimanfaatkan oleh 75 Persen Orang di Segmen Menengah Bawah
tribunnews.com
Ilustrasi rumah sederhana.

WARTA KOTA, PALMERAH -- Stabilnya tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI) dan suku bunga Kredit Pembayaran Perumahan (KPR) selama semester 2 2014 membuat ‎tidak adanya perubahan dalam penggunaan metode pembayaran.

Cushman & Wakefield Indonesia, melalui riset yang dipublikasikan, mencatat, metode KPR masih menjadi metode pembayaran yang paling diminati. ‎Metode pembayaran lainnya adalah metode tunai keras dan tunai berharap.

"Pembeli rumah di segmen menengah bawah dan bawah merupakan pengguna KPR ‎paling banyak, yaitu sebesar 75 persen dari total transaksi KPR," kata ‎Arief Rahardjo, Head of Research and Advisory PT Cushman and Wakefield ‎Indonesia dalam media briefing di Kantor Cushman and Wakefield Indonesia, ‎Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (21/4/2015).

Arief menyebutkan, dengan efektifnya implementasi peraturan loan to value ‎(LTV) dan peraturan mengenai pinjaman bertahap dari bank ke pengembang, ‎para pengembang cenderung mulai mengarahkan para pembelinya untuk memilih ‎cara pembayaran tunai bertahap.

Tunai bertahap sendiri merupakan pembayaran yang dilakukan secara bertahap, ‎biasanya dalam jangka waktu 6-24 bulan dan syaratnya adalah uang muka yang ‎cukup besar.

Guna memotivasi pembeli dalam memilih metode tunai bertahap, pengembang ‎menawarkan cara seperti balloon payment dan masa cicilan yang panjang.

Cara ini dianggap cukup efektif, terlihat dari peningkatan proporsi cara ‎pembayaran metode cicilan bertahap dari 23 persen di semester 1 2014 ‎menjadi 29 persen di semester 2 2014.

Dari semua segmen, Cushman & Wakefield Indonesia mencatat pembeli yang ‎paling banyak menggunakan cara pembayaran cicilan bertahap adalah segmen ‎menengah atas yaitu sebesar 53 persen. Sementara untuk segmen atas ‎pembelinya menggunakan metode tunai keras di semester 1 2014.

Pada umumnya, periode cicilan bertahap berlangsung 24-48 bulan. Metode ini ‎menjadi metode tepat baik bagi pembeli maupun pengembang.

Bagi pembeli, metode ini tidak memiliki suku bunga dan kompleksitas ‎persyaratan administrasi.

Sementara manfaatnya bagi pengembang, bisa mendapatkan dana‎ yang cukup untuk menutupi biaya konstruksi.‎ (Agustin Setyo Wardani)‎

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved