Pedagang Kaki Lima

Dialihfungsikan, Koalisi Pejalan Kaki Minta Area Publik Dibebaskan

Kian merajalelanya PKL pada halte maupun trotoar saat ini, Koalisi Pejalan Kaki menganggap pemerintah belum dapat tegas menerapkan hukuM.

Dialihfungsikan, Koalisi Pejalan Kaki Minta Area Publik Dibebaskan
Panji Baskhara Ramadhan
Ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) liar marak berdagang di trotoar Kawasan Monumen Nasional (Monas), tepatnya dekat Halte Busway Gambir, Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (14/12/2014). 

WARTA KOTA, TANAH ABANG - Menjamur serta kian merajalelanya pedagang kaki lima (PKL) pada halte maupun trotoar saat ini, Koalisi Pejalan Kaki menganggap pemerintah belum dapat tegas menerapkan hukum. Padahal, dalam peraturan tertuang jelas bentuk serta sanksi pelanggaran.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Pendiri Koalisi Pejalan Kaki Antoni Ladjar. Dirinya mengungkapkan, keberadaan halte dan trotoar di kota-kota besar, khususnya Jakarta sangat memprihatinkan.

Karena menurut Antoni Ladjar, kedua area pedesterian tersebut kini bukan hanya dikuasai oleh PKL, tetapi juga para pengendara sepeda motor sebagai area parkir liar ataupun melintas untuk menghindari kemacetan.

"Kami terus berupaya mengembalikan fungsi trotoar dan halte sebagaimana semestinya. Berbagai cara sudah kita lakukan mulai dari melakukan aksi di jalan ataupun sosialisasi, tapi kalau pemerintah tidak tegas, pelanggaran akan terus terjadi," ungkap Antoni Ladjar, Rabu (22/4/2015).

Padahal, kata Antoni Ladjar, pemerintah seharusnya ikut mendorong terlaksananya keadilan bagi kaum pejalan kaki.

Sebab, golongan yang dinilainya masih minoritas tersebut secara langsung sudah mendukung adanya kebijakan pemerintah terkait penggunaan kendaraan umum.

"Banyak kejadian sebaliknya justru kami terima, misalnya di Jalan Wahid Hasyim, perut saya pernah ditodong tukang parkir waktu lakukan aksi tolak parkir liar," kata Antoni Ladjar.

Di depan Kedutaan Amerika, kata Antoni Ladjar, dia juga pernah ditangkap, ia sampai tiduran di tengah jalan. Karena di sana, trotoar tidak boleh dipakai pejalan, jadi yang boleh lewat cuma orang kedutaan (Amerika) saja.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved