Apindo Desak Pemerintah Intervensi Rupiah

Kalangan pengusaha di DKI Jakarta mendesak pemerintah segera melakukan langkah kongkrit untuk menguatkan kembali nilai tukar rupiah

Apindo Desak Pemerintah Intervensi Rupiah
Kontan.co.id
Ilustrasi pusat penukaran valas PT Ayumas. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Kalangan pengusaha di DKI Jakarta mendesak pemerintah segera melakukan langkah kongkrit untuk menguatkan kembali nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Jatuhnya nilai tukar rupiah hingga tembus angka Rp13.000 per dolar Amerika dinilai sudah tidak wajar.

“Kalau nilai tukar rupiah sudah lebih dari Rp13.000 itu, menurut saya sudah nggak normal. Pemerintah harus segera intervensi, fundamental ekonomi juga harus segera dibenahi,” tandas Ketua Umum Apindo DKI Jakarta, Prayitno, menjawab Warta Kota, Jumat (13/3).

Pembenahan yang harus segera dilakukan itu diantaranya pembatasan impor jenis komoditi tertentu, yaitu komoditi yang masih bisa dipasok dari dalam negeri. Selain itu, penundaan pembayaran hutang dan efisiensi oleh pemerintah maupun swasta.

“Mengganti sajian snack menjadi gethuk itu bukan efisiensi yang sistematis. Itu simtomatis, hanya mengatasi gejala yang muncul, bukan akar penyebab gejala yang timbul. Langkah sistematis itu diantaranya penyederhanaan perijinan, karena banyak investor yang uangnya sudah standby, dan menunggu waktu selesainya perijinan,” kata Prayitno.

Menurut Prayitno, jika belum ada tren penguatan nilai tukar rupiah, ada kecenderungan sejumlah pengusaha juga akan menunda investasi dalam negeri karena sebagian dana yang digunakan dalam bentuk hutang bank dari luar negeri. “Kami mendesak pemerintah segera turun tangan untuk stabilisasi kondisi fiskal,” tandasnya.

Prayitno menyebut, turunnya nilai tukar rupiah tidak hanya berimbas negatif pada sektor industri secara umum. Sektor UKM (Usaha Kecil Menengah) juga akan terpengaruh negatif oleh turunnya nilai tukar rupiah itu. Umumnya produk UKM, kata dia, adalah produk sekunder dan tersier.

Jika rupiah masih terus terpuruk, Prayitno memperkirakan sektor UKM hanya bisa bertahan dalam jangka waktu tiga bulan. “Kalau nilai tukar rupiah rendah, pembeli akan menunda dulu belanja produk sekunder tersier, mereka mengutamakan kebutuhan primer dulu. Contohnya usaha pembuatan tahu tempe, itu kan bahan bakunya impor semua,” imbuhnya. (Ichwan Chasani)

Penulis: Ichwan Chasani
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved