Sekolah Minta Damai ke Siswi Korban Pelecehan Guru

ADA (13), siswi SMPN 98 Lenteng Agung, Jakarta Selatan, yang sudah menjadi korban pelecehan oleh gurunya, mengalami trauma psikologis

Sekolah Minta Damai ke Siswi Korban Pelecehan Guru
Kompas.com
Ilustrasi 

WARTA KOTA, SETIABUDI - ADA (13), siswi SMPN 98 Lenteng Agung, Jakarta Selatan, yang sudah menjadi korban pelecehan seksual dan mengalami trauma psikologis malah diminta sekolah untuk mengambil jalan damai dengan tidak mempersoalkan masalah pelecehan tersebut ke jalur hukum.

Hal ini diketahui dari bibi korban, Yusliati ketika dihubungi Wartakotalive.com, Rabu (18/2/2015) siang.

Yusliati mengatakan, kejadian dugaan pelecehan seksual yang terjadi pada 19 November 2014 itu baru diketahui pada 5 Februari ketika orangtua menerima pesan dari siswa lain melalui BBM yang memojokkan ADA.

"Isi pesannya ADA dibully dan dituduh oleh teman-temannya, gara-gara ADA, guru olahraga yang namanya Zaki itu mengundurkan diri," kata Yusliati.

Menurut Yusliati, guru tersebut mengundurkan diri 3 Februari lalu. Saat itu, korban tidak pernah melaporkan tindak pelecehan yang dialaminya kepada ibu korban.

Namun, pada 5 Februari orangtua korban dipanggil oleh sekolah. Bukannya untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan dengan melindungi anak, sekolah justru menginginkan jalan damai.

"Sekolah malah minta kami untuk tidak lapor kepada polisi, tapi kami tetap kekeuh, karena tindakan pelecehan oleh guru tersebut bukan yang pertama, sebelumnya, guru itu sudah pernah melecehkan siswi lain, tetapi siswi itu tidak berani lapor," katanya.

Yusliati yang merupakan adik dari ayah korban itu mengatakan, dirinya pada Selasa (17/2) sudah melaporkan tindakan yang diduga pelecehan tersebut kepada Polres Jakarta Selatan. Korban pun, menurutnya sudah divisum untuk untuk mendapatkan bukti-bukti pelecehan seksual.

Hasil visum, kata Yusliati, menunjukkan ada kerobekan pada alat kelamin korban akibat dipegang oleh tangan.

Atas hal tersebutlah, kemudian keluarga korban masih melanjutkan proses pemeriksaan karena tidak ingin hal serupa menimpa siswi lainnya. (Agustin Setyo Wardani)

Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved