Ilham Habibie: Daya Saing Indonesia Jauh di Bawah Malaysia

Komisaris Hyve Ilham Habibie mengatakan, Indonesia perlu memperbaiki daya saingnya di pasar global.

Ilham Habibie: Daya Saing Indonesia Jauh di Bawah Malaysia
istimewa
Kafe loko express di Stasiun Semarangponcol, Jawa Tengah. 

WARTA KOTA, PALMERAH—Komisaris Hyve Ilham Habibie mengatakan, Indonesia perlu memperbaiki daya saingnya di pasar global. Menurut dia, kuncinya ada di perkembangan inovasi-inovasi dalam dunia kewirausahaan Indonesia.

"Guna bersaing di pasar global, ide inovatif Indonesia perlu melibatkan konsumen global dan membuat produk atau jasa sesuai selera konsumen global," kata Ilham dalam seminar bertajuk Let's Innovate Indonesia di Energy Building, Jakarta, Selasa (17/2/2015).

Menurut putra Presiden RI Ketiga BJ Habibie ini, daya saing Indonesia berdasarkan Forum Ekonomi Dunia (WEF) berada diperingkat 38, jauh di bawah Malaysia yang berada di posisi 24 dan Singapura di peringkat kedua. "Inovasi mutlak dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing," kata Habibie.

Sayangnya, menurut Ilham, inovasi di Indonesia masih terhambat dalam hal kualitas untuk bersaing di pasar global. "Inovasi di Indonesia saat ini sudah cukup banyak, namun masih tertinggal dalam hal kualitas untuk bersaing di pasar global. Inovasi yang dihasilkan putra bangsa juga belum seluruhnya diserap oleh pasar dan menjawab tantangan pembangunan bangsa kita," jelasnya.

Selain itu, kata dia, dana untuk kebutuhan riset di Indonesia relatif masih kecil jika dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Israel. "Indonesia punya penyakit kurang mengeluarkan dana di bidang penelitian. Harusnya Indonesia mengeluarkan 1 persen Produk Domestik Bruto (PDB) utk penelitian. Sedangkan saat ini hanya 0,77 persen. Negara maju seperti Israel itu sampai 4,2 persen," kata Ilham.

Hal ini senada dengan perkataan Pakar Inovasi dan Kewirausahaan Universitas Innsbruck, Johann Fuller bahwa inovasi selalu dibutuhkan oleh dunia bisnis untuk berkembang.

"Inovasi adalah bagian penting. Selama waktu berganti, teknologi dan masyarakat pasti akan menghadapi masalah baru. Oleh karena itu dibutuhkan inovasi-inovasi baru," jelas Fuller dalam acara yang sama. (Stefanno Reinard Sulaiman)

Editor: Suprapto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help