Jakarta Banjir

Apindo: Ratusan Industri Terganggu Akibat Banjir

Apindo memperkirakan ratusan industri di sejumlah kawasan terganggu operasionalnya akibat banjir.

Apindo: Ratusan Industri Terganggu Akibat Banjir
Warta Kota/nur ichsan
ILUSTRASI - Genangan air setinggi lutut orang dewasa nyaris membuat putus arus lalu lintas di Jalan Panjang, tepatya di depan Perumahan Green Arden, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (27/12). Hauan deras yang turun dengan intensitas tinggi membuat sejumlah ruas jalan dan perumahan di ibukota terendam banjir yang memaksa warga untuk mengungsi. 

WARTA KOTA, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DKI Jakarta memperkirakan ratusan industri skala besar, menengah dan kecil di sejumlah kawasan industri terganggu operasionalnya akibat banjir, Senin (9/2).

Ketua Apindo DKI Jakarta, Prayitno menyatakan belum bisa menghitung angka kerugian yang ditimbulkan banjir di sejumlah kawasan industri itu. Namun yang jelas banjir sudah mengganggu proses produksi sejumlah industri.

"Kami sedang pantau terus, di beberapa kawasan industri seperti di Pulogadung, lumayan kena. Kalau yang sekitar Cimanggis arah Jalan Raya Bogor belum ada laporan," kata Ketua Apindo DKI Jakarta, Prayitno kepada Wartakotalive.com.

Beberapa lokasi kawasan industri lainnya yang terganggu akibat banjir, sebut Prayitno, diantaranya di wilayah Galur, Duri Kepa, Kamal, KBN (Kawasan Berikat Nusantara-red) hingga kawasan Marunda.

Prayitno menyatakan bahwa bagi beberapa perusahaan, banjir kali ini belum sampai tahap darurat, namun sudah sampai tahap waspada. Diakuinya banjir saat ini telah membuat siklus kerja sudah tidak normal.

"Misalnya pekerja back office, itu mereka masuk kerjanya jadi setengah hari, selepas pukul 13.00 sudah pulang. Sebagian lainnya, seperti bagian marketing, melanjutkan kerja by online," imbuhnya.

Prayitno mengatakan, Apindo DKI Jakarta sudah mengimbau anggotanya bahwa hal yang penting untuk diselamatkan di kawasan industri yang tergenang banjir itu yang pertama adalah manusianya terlebih dulu, baru kemudian aspek produksi.

"Selamatkan dulu manusianya, baru aspek produksinya, mesin jangan sampai kerendem, bahan baku jangan sampai rusak," tuturnya.

Menurut Prayitno, sektor usaha yang paling terpukul akibat banjir kali ini adalah Usaha Kecil Menengah (UKM) karena umumnya berhenti produksi akibat aliran listrik di beberapa wilayah mati. Selain itu juga banyak karyawan yang absen.

"UKM ini kan labour intensif, kalau karyawan telat masuk bisa terganggu proses produksinya. Rata-rata akhirnya diliburkan sehari," tuturnya.

Penulis: Ichwan Chasani
Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved