Unjuk Rasa

Massa MPI Minta KPK Tangkap Calon Dirjen Pajak

Puluhan pengunjuk rasa yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Indonesia (MPI) menggeruduk gedung KPK hari ini, Jumat (6/2/2015).

Massa MPI Minta KPK Tangkap Calon Dirjen Pajak
Warta Kota/Dwi Rizki
Puluhan pengunjuk rasa yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Indonesia (MPI) menggeruduk gedung KPK, Jumat (6/2/2015) menuntut agar KPK dapat menangkap calon Dirjen Pajak, Sigit Priyadi Pramudito yang diduga melakukan korupsi. 

WARTA KOTA, SETIABUDI - Puluhan pengunjuk rasa yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Indonesia (MPI) menggeruduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari ini, Jumat (6/2/2015). Tidak hanya mendukung KPK terkait kasus yang membelit para petinggi KPK, demonstran juga menuntut agar KPK dapat menangkap calon Dirjen Pajak, Sigit Priyadi Pramudito yang diduga melakukan korupsi.

Pemandangan ramainya teriakan serta yel-yel dan orasi terlihat diteriakan oleh puluhan pengunjuk rasa berpakaian putih hitam persis di depan gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan. Para demonstran menuntut agar KPK mengusut tuntas temuan rekening gendut calon Dirjen Pajak, Sigit Priyadi Pramudito.

Koordinator aksi, Bakas Mangara mengatakan, aksi unjuk rasa yang diikuti oleh 250 orang itu merupakan bentuk kekecewaan dirinya maupun anggota yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Indonesia (MPI) terkait hasil penelusuran Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Dalam laporan keuangan tersebut, Sigit dikatakannya memiliki rekening gendut per tanggal 31 Desember 2011 mencapai Rp 21,8 miliar. Jumlah aset tersebut dinilainya sangat tidak relevan, mengingat jabatan Sigit saat itu hanya setingkat eselon dua.

"Kekayaan Sigit sangat fantastis, ini tidak masuk akal, harusnya bisa ditelusuri dari mana uang sebanyak itu, masa pejabat eselon dua bisa sekaya itu," ujar saat berorasi di depan Gedung KPK, Jumat (6/2/2015).

Ditemui disela-sela unjuk rasa, dirinya pun menyampaikan kekayaan Sigit diketahui melonjak hingga sebesar Rp 8 miliar hanya dalam kurun waktu dua tahun, yakni dari semula Rp 13 miliar pada tahun 2009 melonjak hingga Rp 21,8 miliar pada tahun 2011.

Selain itu, Sigit pun diketahui memiliki tabungan berupa Dollar Amerika yang jumlahnya mencapai US$ 39.536, rumah senilai miliar rupiah yang berlokasi di Jakarta dan Bandung, Jawa Barat.

"Kenaikan harta yang sangat fantastis ini sangat kental dan patut diduga ada tindakan korupsi. Apalagi tim penyidik Jaksa Agung juga telah melakukan pemeriksaan terhadap Sigit. Sigit diduga kuat menaikan nilai NJOP," ujar Bakas.

Merunut hal tersebut, dirinya pun meminta kepada penegak hukum untuk mengungkap skandal korupsi melalui penerimaan pajak. KPK disarankannya juga harus bekerjasama Kejaksaan Agung untuk bersama-sama mengungkap skandal dugaan korupsi tersebut.

"Kami elemen masyarakat menolak Sigit sang mafia pajak. Stop kongkokalikong Sigit dan Bambang Broonegoro," teriakan kembali berorasi.

Sementara itu, terkait aksi unjuk rasa tersebut, Jalan Raya HR Rasuna Said sempat mengalami kemacetan. Warta Kota yang melintas dari arah utara menuju selatan melihat kemacetan mengular dari depan gedung KPK hingga Jalan Sultan Agung mengarah ke Jakarta Pusat pada Jumat (6/2/2015) sekira pukul 17.00 WIB.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help