Bocah TK Disodomi

Kesaksian Ahli Lemahkan Kasus Sodomi JIS

Penjelasan dr Evi menyatakan dugaan adanya sodomi tidak terbukti secara medis, ungkap Patra kepada wartawan.

Kesaksian Ahli Lemahkan Kasus Sodomi JIS
KOMPAS.COM/ANDRI DONNAL PUTERA
Kelima terdakwa kasus kekerasan seksual di JIS. 

WARTA KOTA, PASAR MINGGU - Persidangan kasus kekerasan seksual di TK Jakarta International School (JIS) kembali digelar di PN Jakarta Selatan, Senin (1/12). Dalam kesaksiannya, dua orang ahli yaitu dr. Evi Untoro, Ahli Patologi Forensik dari RSU Tangerang dan ahli pidana, Chairul Huda menyatakan keraguan mereka tentang adanya sodomi.

Patra M. Zen, kuasa hukum terdakwa Virgiawan Amin dan Agun Iskandar kepada wartawan usai sidang tertutup mengatakan, setelah dr Evi Untoro membaca dan mempelajari fakta-fakta medis dari SOS Medika, RSCM, dan RSPI, ia berkeyakinan bahwa kasus sodomi tidak ada.

”Penjelasan dr Evi menyatakan dugaan adanya sodomi tidak terbukti secara medis,“ ungkap Patra kepada wartawan.

Ia mengatakan, dr Evi menyatakan apabila sodomi terjadi kemungkinan besar AK, mantan siswa JIS yang diduga menjadi korban, akan mengalami trauma dan terkena penyakit menular seksual. Terlebih, para terdakwa yang merupakan petugas kebersihan atau cleaning service menderita HSV2 atau herpes simplex.

”Namun seperti yang terangkum dalam bukti-bukti medis dan hasil laboratorium yang dipelajari oleh dr Evi, korban AK tidak mengalami hal seperti yang dituduhkan. Penjelasan dr Evi semakin memperkuat fakta bahwa sodomi ini memang tidak ada. Sama seperti halnya dr Ferryal Basbeth, Ahli Forensik yang bersaksi pada sidang lalu, para ahli yang dihadirkan hari ini sulit menemukan adanya bukti-bukti sodomi itu dari rekam medis,” imbuh Patra.

Patra menjelaskan, saksi Chairul Huda mengatakan bahwa keputusan dengan alat bukti yang nihil haruslah menggunakan asas In Dubio Pro Reo. Atau haruslah menguntungkan terdakwa.

”Dalam kasus ini putusannya harus membebaskan terdakwa. Tidak ada bukti yang terpercaya dan valid dalam kasus ini, makanya asas In Dubio Pro Reo harus diutamakan yaitu asas yang menguntungkan terdakwa atau dalam konteks ini membebaskan terdakwa," jelas Patra.‎

Patra mengatakan, apa yang dikatakan Chairul membuktikan bahwa kasus ini semakin menunjukkan akhir dari putusan yaitu bebas bagi terdakwa. Karena seseorang tidak dapat dihukum karena alasan kemungkinan dia melakukan apa yang dituduhkan,” jelasnya.

Seperti diketahui, dugaan asusila ini terjadi selama periode Dember 2013-Maret 2014. Korban AK disebutkan mengalami 13 kali sodomi oleh para terdakwa. Sementara bukti medis dan kesaksian ahli baik dari saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum maupun oleh pengacara terda‎kwa menyatakan tidak ada luka pada lubang pelepasan AK.

Kelima terdakwa yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap bocah berinisial AK itu ialah Awan, Agun, Zainal, Syahrial, dan Afriska. Kelimanya hadir mengikuti sidang di ruang sidang utama Prof H Oemar Seno Adji di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

Penulis: Ahmad Sabran
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help