Tips Sehat

Mendengarkan Radio Mengasah Imajinasi

Mendengarkan radio perlu diperkenalkan khususnya kepada anak-anak karena mempunyai fungsi untuk mengasah imajinasi.

Mendengarkan Radio Mengasah Imajinasi
istimewa
Mendengarkan radio bisa melatih imajinasi 

WARTA KOTA, PALMERAH - Mendengarkan sarana komunikasi seperti radio perlu diperkenalkan khususnya kepada anak-anak karena mempunyai fungsi untuk mengasah imajinasi.

Era kejayaan radio terjadi pada kurun waktu 1980-1990-an, era sebelum industri televisi menggantikan kejayaan radio.

Kalangan tua, muda, anak-anak akan menunggu waktu siaran. Walaupun hanya suara, para pendengar bisa sedih atau ketakutan membayangkan sandiwara yang berjaya di masa itu seperti Saur Sepuh atau Tutur Tinular. Dari suaranya juga bisa membayangkan wajah dan postur para tokoh tersebut.

Yang sangat monumental tentu saja kisah "Invasion from Mars" karya Orson Welles, yang merupakan serial drama di radio United States (US), yang bisa menimbulkan ketakutan kepada masyarakat US, yang mendengarkan serial itu pada tahun 1938.

Seiring dengan waktu, kegandrungan orang akan sandiwara radio pun luntur. Terlebih anak-anak dan kaum muda sekarang karena mereka punya banyak pilihan sarana hiburan.

Salah satu penyiar radio Gen FM, Kemal mengatakan, industri radio harus berbenah menghadapi kondisi tersebut. “Setelah era tahun 1990-an, radio punya saingan, gadget. Informasi didapatkan bukan hanya radio, dikit-dikit anak muda buka instagram, twitter, path, dan sebagainya,” katanya, saat menjadi pembicara dalam coaching clinic PT Radio Attahiriyah (Gen FM) dengan tema "Mendengar Radio Baik untuk Perkembangan Anak" di Kidzania, Selasa (16/9).

Meski demikian banyak sarana komunikasi dan teknologi informasi, kata Kemal, radio tetap eksis, tentunya dengan warna sendiri. “Tantangannya adalah bagaimana kita membuat informasi disajikan secara menarik dan menyenangkan," katanya.

Tidak Ringan

Sementara itu, Ruth atau penyiar Gen FM yang punya nama popular TJ, yang menjadi partner setia Kemal di Gen FM, menyatakan, kalau ditanya ke sekelompok anak-anak tentang cita-citanya, mereka menjawab, dokter atau polisi sering disebut. “Enggak pernah mereka menyatakan cita-citanya menjadi penyiar radio. Sekarang, saya sudah lima tahun jadi penyiar radio,” katanya.

Menurut TJ, menjadi penyiar tidak ringan karena dituntut tidak hanya jago bicara saja, tapi apa yang dibicarakan itu juga harus penuh makna. "Untuk mendapatkan obrolan yang berisi, seorang penyiar perlu banyak pengetahuan, wawasan, terbuka terhadap segala informasi, mau belajar, dan berkarakter," katanya.

Selain itu, kata TJ, penyiar harus percaya diri, kreatif, menyenangkan, disiplin, mampu bekerja dalam tim, dan selalu mempersiapkan diri. Karena itu, untuk membuat program dan materi siaran berkualitas, diperlukan kerja tim.

Jika memang anak-anak menginginkan menjadi penyiar di masa depan, TJ dan Kemal sepakat, orangtua mereka perlu memfasilitasi dengan membiarkan anak untuk berani maju di depan, percaya diri, disiplin, dan juga pandai bicara di muka umum.

Kedisiplinan, kata TJ, mutlak harus dipenuhi. "Penyiar harus disiplin karena kalau sedang siaran, ada waktu-waktu khusus. Kalau kita tidak hadir di waktu itu, maka kita akan dicari pendengar,” kata wanita yang sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sudah terkenal sebagai anak yang suka melucu.

Cara untuk menjadi penyiar dilakukan dengan mengikuti radio sekolah atau radio kampus, yang bisa menjadi ajang latihan. (Harian Warta Kota)

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help