Konsultasi

Setelah Polio, Dapatkah Rubela Dikendalikan?

Remaja putri Indonesia juga harus menjalani pemeliharaan kesehatan yang teratur.

Setelah Polio, Dapatkah Rubela Dikendalikan?
Kompas.com
Ilustrasi vaksinasi. 

Oleh dr Samsuridjal Djauzi

Setelah dua tahun menikah, pada umur 29 tahun saya melahirkan anak perempuan. Bayi pertama saya ini mengalami cacat. Mula-mula saya perhatikan jika menangis bibirnya agak biru. Saya kemudian berkonsultasi dengan dokter spesialis anak dan ternyata terdapat kelainan pada dinding jantungnya. Kelainan tersebut merupakan cacat bawaan. Saya dianjurkan berkonsultasi dengan dokter spesialis mata, dokter spesialis telinga-hidung-tenggorokan serta dokter spesialis saraf. Ternyata anak saya mengalami gangguan baik pada pendengaran, mata maupun sarafnya. Hasil penelusuran laboratorium menunjukkan anak saya mengalami sindrom rubella kongenital. Saya memang pernah mengalami campak pada waktu hamil, namun saya tidak menyangka bahwa infeksi tersebut dapat berpengaruh pada pertumbuhan janin.

Saat ini kelainan jantung anak saya sudah ditangani dengan operasi, akan tetapi kami masih terus berkonsultasi dengan dokter spesialis anak dan spesialis telinga-hidung-tenggorokan dalam mengawal pertumbuhan dan perkembangan anak kami. Pertumbuhan bicaranya cukup baik dan juga dia dapat berjalan meski lambat. Saya baru mendengar bahwa rubella atau campak jerman, dapat menimbulkan cacat pada bayi yang dikandung.

Apakah semua ibu yang akan hamil perlu diimunisasi dulu dengan vaksin rubella? Apakah vaksin rubella ada di Indonesia? Bila ada, di mana dapat memperolehnya? Apakah pemerintah akan memasukkan vaksin ini ke dalam program imunisasi nasional? Saya sebagai anggota masyarakat mengharapkan agar tak ada lagi bayi yang bernasib seperti anak saya. Saya masih ingin punya anak lagi. Apakah nanti anak saya juga berisiko terkena sindrom rubella kongenital? Padahal kami memimpikan anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan berbudi. Apa yang harus dilakukan oleh calon ibu agar tidak tertular rubella? Apakah dapat diperiksa di laboratorium dan apakah calon ibu sudah punya kekebalan terhadap rubella? Terima kasih atas penjelasan dokter.

O di J

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kawasan Asia Tenggara mempunyai program agar pada tahun 2020 di kawasan ini penyakit campak (measle) dapat dieliminasi, sedangkan rubella/campak jerman akan dapat dikendalikan. Harapan WHO sebenarnya cukup realistis, karena pada kawasan lainnya, misalnya kawasan Amerika, campak sudah dapat dieliminasi serta rubella sudah terkendali.

Pada bulan Maret 2014, WHO kawasan Asia Tenggara telah mendeklarasikan bebas polio. Eliminasi polio dapat dicapai berkat kerja keras semua pihak, pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Jika polio dapat dieliminasi maka kita juga berharap campak yang menimbulkan banyak kematian pada anak, juga akan dapat dieliminasi.

Di negeri kita, vaksin campak telah dimasukkan ke dalam program imunisasi nasional, artinya seluruh anak Indonesia mendapat kesempatan memperoleh imunisasi campak. Mereka dapat memperolehnya di posyandu atau puskesmas secara cuma-cuma atau di layanan swasta dengan membayar sendiri. Namun imunisasi rubella sampai saat ini belum masuk program pemerintah sehingga masyarakat untuk sementara harus membiayai imunisasi rubella sendiri. Untunglah vaksinnya tidak mahal. Pemerintah Banglades telah melakukan imunisasi MR (measles & rubella) pada tahun 2013, sedangkan India akan melaksanakannya tahun 2014 ini. Kapan kita akan melaksanakan imunisasi rubella secara besar-besaran? Pemerintah sedang menyiapkannya agar Indonesia juga dapat mencapai bebas campak serta terkendali rubella pada 2020.

Diperkirakan jumlah orang yang harus diimunisasi mencapai 70 juta orang yaitu mereka yang berumur 0 sampai 15 tahun. Tidak kalah pentingnya, masyarakat juga harus mendukung, karena untuk mencapai keadaan rubella terkendali dari sekitar 70 juta orang yang harus diimunisasi, capaian imunisasinya harus mencapai 95 persen. Cakupan ini amat tinggi, namun harus kita upayakan jika ingin rubella terkendali. Perusahaan vaksin kebanggaan kita, Biofarma, telah mempersiapkan diri untuk memproduksi vaksin rubella pada tahun 2016. Jika vaksin tersedia pada tahun 2016, mungkin program imunisasinya baru dapat dimulai pada tahun 2017. Tampaknya Indonesia harus mempercepat kampanye imunisasi rubella dengan melakukan imunisasi massal rubella lebih cepat dari 2017.

Remaja putri
Remaja putri Indonesia juga harus menjalani pemeliharaan kesehatan yang teratur. Vaksin untuk remaja putri seperti HPV (Human Papilloma Virus) dan rubella perlu diberikan. Sebelum pemerintah melaksanakan kampanye rubella dan memasukkan rubella dalam program imunisasi nasional. Remaja putri yang juga calon ibu pada nantinya, dapat menjalani imunisasi rubella (di Indonesia vaksin rubella yang tersedia baru merupakan kombinasi dengan measle/campak dan mumps/gondongan, MMR).

Sebelum menikah dianjurkan untuk mengulang imunisasi tetanus, kemudian pada waktu hamil memeriksakan diri untuk hepatitis B, HIV, serta penyakit menular seksual agar dapat dihindari penularannya pada bayi. Saya dapat memahami kesulitan Anda mengasuh anak Anda sekarang, karena itu semangat Anda untuk mencegah bayi cacat merupakan semangat kita semua. Jika Anda sudah tertular rubella, maka Anda akan mempunyai kekebalan terhadap rubella sehingga kemungkinan bayi Anda untuk mengalami sindrom rubella kongenital hampir tidak ada.

Sudah tentu saya berharap Anda tetap berkonsultasi dengan dokter spesialis kebidanan Anda secara teratur. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui apakah seseorang telah terpapar rubella dapat dilakukan, dengan demikian sebelum hamil diharapkan para calon ibu untuk melakukan skrining pemeriksaan rubella. Jika belum memiliki kekebalan terhadap rubella maka harus diberi vaksin. Saya berharap meski dengan keterbatasan, anak Anda akan tumbuh kembang dengan baik dan Anda akan menjaga titipan Tuhan dengan kasih sayang dan penuh kehati-hatian.

Editor: Andy Pribadi
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved