Diduga Pungli, Orangtua Siswa Keberatan Bayar Iuran

Diduga melakukan pungutan liar (pungli) sejumlah orangtua siswa keberatan membayar iuran koperasi yang diwajibkan pihak sekolah.

Diduga Pungli, Orangtua Siswa Keberatan Bayar Iuran
gobekasi.com
Ilustrasi. 

WARTA KOTA, PASAR MINGGU - Diduga melakukan pungutan liar (pungli) sejumlah orangtua siswa keberatan membayar iuran koperasi yang diwajibkan pihak sekolah. Namun imbasnya, pihak sekolah justru terkesan mengucilkan orangtua sekaligus siswa yang menolak pembayaran.

Perasaan resah sekaligus terasing tersebut seperti halnya yang tengah dialami oleh B (37), orangtua siswa SDN 03 Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan saat ini. Dirinya yang secara tegas menolak pembayaran terkait iuran kepada pihak sekolah mengaku keberatan dan terkucilkan saat ini.

"Kami dibebankan untuk pertama menjadi anggota sebesar lima puluh ribu sebulanannya, selebihnya sepuluh ribu per bulan. Mungkin kalau untuk orangtua murid yang lain nggak berat, tapi kalau saya duit segitu terasa banget mas," kata B.

Alasan dirinya menolak untuk membayarkan iuran tersebut memang sangat beralasan, pasalnya pria yang kesehariannya berprofesi sebagai pengantar gas dengan penghasilan sebesar Rp 1 juta per bulan tidak memiliki uang lebih untuk membayar iuran tersebut.

"Karena memang saya nggak mampu mas, tapi karena itu istri saya sekarang dikucilin sama pihak sekolah. Tapi sebenernya bukan itu yang saya takutin, tapi nasib anak saya, takutnya karena masalah ini, anak saya jadi dipersulit dan bisa-bisa nggak dinaikin kelas," kata B sedih.

Kepala Sekolah SDN 03 Kebagusan, Jakarta Selatan, Sulaiman membantah adanya pungutan liar yang dilakukan pihaknya. Dirinya mengaku kalau pungutan yang dibebankan kepada orangtua siswa merupakan upayanya untuk mengaktifkan kewirausahawan di lingkungan sekolah.

"Jadi tidak benar mas kalau sekolah melakukan pungutan liar, karena secara langsung saya dapat tuntutan untuk meningkatkan akreditasi sekolah. Salah satunya syarat akreditasi, tepatnya di poin ke 58, yaitu sekolah harus mempunyai ke wirausahawan," kata Sulaiman kepada Warta Kota, Senin (1/9/2014).

Dirinya menambahkan, terhitung sejak dirinya ditugaskan untuk memimpin SDN 03 pada April 2014 lalu, dirinya hanya melihat kemandirian sekolah hanya berupa sebuah kantin sebagai bentuk kewirausahaan. Sehingga dirinya pun menggagaskan untuk membentuk sebuah Koperasi yang beranggotakan seluruh orangtua siswa.

"Kalau hanya kantin saja nilainya cuma D. Karena kewirausahawan mandiri itu bisa berupa apa saja, bisa pertanian, perikanan dan koperasi," kata Sulaiman.

Merunut adanya laporan beberapa orang orangtua siswa yang keberatan atas pendirian Koperasi tersebut, dirinya mengaku kecewa dan merasa sakit hati karena dituduh telah melakukan pungli berkedok uang koperasi.

"Pembentukan koperasi ini sudah diketahui dan disetujui oleh seluruh orangtua siswa. Mungkin ada orangtua murid yang tidak datang saat itu, jadi tidak mengerti penjelasan dari kami soal pembentukan koperasi ini," kata Sulaiman.

Walau baru akan terbentuk, dirinya menjelaskan kalau koperasi tidak mengikat karena bersifat sukarela. Selain itu, menurutnya, nilai setoran pada tiap anggotanya pun tidak memberatkan, yakni setoran awal hanya sebesar Rp 50.000 per orang dengan nilai iuran sebesar Rp 10.000 per orang setiap bulan.
  
"Sama sekali tidak diwajibkan, bahkan kami memberikan keringanan untuk uang pokok masuk sama anggota, bisa dicicil dua kali. Kalau tidak masuk juga nggak apa-apa, tidak ada pemaksaann," kata Sulaiman.

Dihubungi terpisah, Kasudin Pendidikan Dasar Jakarta Selatan, Didi mengatakan, pihaknya melarang berbagai pungutan dalam bentuk apapun kepada orangtua ataupun wali murid sekolah. Sehingga apabila terbukti menyalahi aturan, pihaknya tidak akan segan-segan menindak tegas pihak sekolah, khususnya kepala sekolah.

"Apabila memang benar ada pungutan, tentunya kepala sekolah akan dikenakan sanksi tegas sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Beri saya waktu untuk menyelidiki kasus ini, jika terbukti melakukan pungli pihak kami akan segera tindak," ujar Didi.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved