Home »

News

Tip Sehat

Ini Risiko Terapi Stem Cell

Saya amat mendambakan terapi yang dapat menuntaskan penyakit kencing manis dan gagal ginjal.

Ini Risiko Terapi Stem Cell
Kompas.com
Ilustrasi. 

Oleh dr Samsuridjal Djauzi

SAYA (62 ) penderita ginjal'>gagal ginjal kronik dan sudah tiga tahun ini menjalani cuci darah. Sejak 20 tahun lalu, saya menderita kencing manis. Menurut dokter, penyakit ginjal'>gagal ginjal saya akibat komplikasi kencing manis. Dokter menganjurkan agar saya menjalani cangkok ginjal, tetapi saya masih ragu. Saya mencari terapi yang lebih kecil risikonya.

Apakah terapi stem cell untuk ginjal'>gagal ginjal dan kencing manis sudah dapat dilakukan di Indonesia? Di negara mana terapi tersebut dapat dilakukan? Saya amat mendambakan terapi yang dapat menuntaskan penyakit kencing manis dan ginjal'>gagal ginjal. Apa saja risiko yang dapat terjadi?

Saya meragukan pendapat dokter saya karena menantu saya sewaktu melahirkan menyimpan darah dari plasenta sekitar tiga tahun yang lalu. Darah tersebut mengandung stem cell yang dapat digunakan jika nanti di masa depan anaknya menderita sakit. Bagaimana mungkin menyimpan darah stem cell jika tidak dapat digunakan. Mohon penjelasan dokter mengenai terapi stem cell ini. Terima kasih.

K di J

Terapi stem cell (sel punca) merupakan terapi yang diharapkan memberi hasil sehingga penyakit yang selama ini belum dapat disembuhkan akan dapat diatasi. Di Asia, selain Jepang, Korea, Tiongkok, dan India, negara kita juga ingin memanfaatkan terapi sel punca. Kementerian Kesehatan telah menugaskan rumah sakit pendidikan untuk melakukan penelitian dan pengembangan terapi sel punca. Namun, untuk dijadikan terapi yang digunakan secara luas, harus cukup bukti mengenai manfaatnya dan harus terjamin keamanannya.

Terapi sel punca yang sudah diakui adalah untuk keganasan darah (leukemia, limfoma malignum, dan lain-lain) serta kelainan darah, sedangkan untuk penyakit lain masih dalam penelitian. Terapi untuk mengatasi penyakit jantung (miokard infark) telah dilakukan pada ribuan pasien di sejumlah negara, tetapi para peneliti masih memerlukan waktu untuk menyimpulkan bahwa terapi tersebut memang bermanfaat.

Penelitian untuk kanker, kencing manis, stroke, alzheimer, dan kelainan retina mata banyak diteliti. Namun, belum dapat disimpulkan bahwa hasilnya baik. Jadi, jangan mudah tergoda dengan iklan dan janji yang belum dibuktikan secara ilmiah.

Proses terapi
Terapi sel punca melalui tiga proses. Pertama adalah penyediaan sel punca. Kedua penyimpanan, serta ketiga penggunaan di klinik. Sumber sel punca dapat berasal dari pasien yang akan diobati atau dari orang lain. Jika berasal dari orang lain, apalagi berasal bukan dari manusia, kita menghadapi risiko penularan penyakit. Perlu penyaringan yang teliti agar donor tidak menularkan penyakit kepada yang menerima sel punca. Selain itu, sel punca tersebut hendaknya tidak mempunyai kelainan genetik yang dalam jangka waktu lama baru akan bermanifestasi sebagai penyakit.

Pada proses kedua, yaitu penyimpanan, selain risiko tercemar jasad renik (bakteri, virus, parasit), juga harus menjamin sel punca tersebut hidup dan tumbuh dengan baik. Karena itulah, laboratorium yang mengambil dan menyimpan sel punca ini harus merupakan laboratorium yang diakui baik.

Bagaimana dengan sel punca yang diimpor dari luar negeri. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) mensyaratkan agar sel punca suntikan tersebut didaftarkan agar jelas sumber sel punca tersebut dan jelas laboratorium yang memprosesnya. Seperti juga obat, sel punca juga harus diketahui kandungan suntikan tersebut, mengandung berapa sel dan apakah sel puncanya masih hidup. Sepanjang pengetahuan saya, belum ada produk sel punca dari luar negeri yang telah didaftarkan di Badan POM kita.

Pada proses ketiga, yaitu penggunaan klinik, risiko yang dapat terjadi adalah penularan penyakit dan sel punca mungkin tidak bekerja. Pada stroke, misalnya, kita berharap sel punca akan mencapai bagian-bagian otak yang mengalami kerusakan. Jika sel punca diberikan secara infus, belum jelas berapa persen yang akan mencapai otak. Pada terapi sel punca untuk jantung, sel punca diberikan ke pembuluh darah koroner jantung melalui katerisasi. Adapun untuk terapi otot jantung, sel punca disuntikkan dengan bantuan alat yang disebut NOGA.

Berobat ke luar negeri
Sangat dianjurkan pasien atau keluarga mencari informasi apakah klinik atau perusahaan obat yang memproduksi sel punca tersebut telah mendapat izin di negerinya. Apakah terapi sel punca tersebut sudah resmi diizinkan untuk pelayanan publik. Acap kali iklan yang ada mengesankan bahwa terapi tersebut telah rutin dilakukan. Namun, kita harus teliti karena mungkin kebijakan negara setempat sebenarnya belum mengizinkan terapi sel punca untuk masyarakat luas.

Mengenai sel punca yang diambil dari plasenta dan disimpan dengan harapan akan digunakan kelak, sel punca tersebut dewasa ini akan dapat digunakan untuk mengatasi keganasan (kanker) hematologi dan kelainan hematologi lainnya. Di negeri kita, yang populer adalah penyimpanan sel punca oleh swasta. Sebenarnya, akan jauh lebih bermanfaat jika pemerintah mengadakan penyimpanan sel punca untuk masyarakat seperti halnya bank darah. Sel punca tersebut dapat digunakan bagi anak yang mengikuti program penyimpanan dan bagi anak lain yang memerlukan.

Saya setuju dengan dokter Anda, sudah saatnya Anda mempertimbangkan cangkok ginjal. Memang ada harapan di masa depan melalui rekayasa jaringan yang berbasis sel punca akan terbentuk ginjal yang dapat mengambil alih fungsi ginjal Anda yang tidak berfungsi. Namun, sepanjang pengetahuan saya, penelitian ini baru sampai pada percobaan binatang. Jadi, penerapan pada manusia masih akan lama.

Editor: Andy Pribadi
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help